KORAN WONOPRINGGO

Inspirasi dan Referensi Terpercaya Di Pekalongan

Arsip untuk ‘Seputar Pekalongan’ Kategori

Ponpes Manba’ul Falah Pekalongan

Posted by koranwopi pada Juli 25, 2009

Pesantren Spesialis Ilmu Nahwu

Di kawasan pesisir Pantai Utara Jawa (Pantura) Perkembangan Agama Islam telah dimulai sejak mendaratnya para Gujarat di kawasan pesisir di samping untuk berdagang juga sekaligus menyebarkan agama Islam. Hal ini ditandai dengan munculnya sembilan wali atau Walisongo sebagai juru penyebar agama Islam yang kebanyakan di daerah pesisir Pantai Utara Jawa seperti Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Kudus, Demak dan Cirebon. Maka tak mengherankan, jika perkembangan Islam di daerah pesisir lebih menonjol dibanding di kawasan pedalaman pulau Jawa.

Salah satu kawasan pesisir pantura yang mengalami perkembangan pesat agama Islamnya ialah Pekalongan. Julukan Pekalongan sebagai Kota Santri ternyata tidak hanya di slogan saja, akan tetapi betul betul diwujudkan dalam amaliyah sehari-hari di masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya pondok pesantren di tengah-tengah masyarakat industri batik yang telah masyhur hingga manca negara ini.

Salah satu pesantren yang kini sedang berkembang seiring dengan laju perkembangan zaman ialah Pondok Pesantren Putra Putri Manba’ul Falah yang beralamat di Sampangan V/27 Pekalongan. Di pesantren ini para santri yang lebih didominasi dari luar jawa diajarkan berbagai disiplin ilmu mulai dari dasar hingga yang paling tinggi. Sehingga para santri memperoleh bekal yang cukup dalam ilmu agama yang nantinya dapat diamalkan setelah terjun di tengah-tengah masyarakat.

Menurut KH. Hasanuddin Subki Masyhadi Pengasuh PP. Manba’ul Falah, berdirinya pesantren ini karena atas dorongan dan amanat dari gurunya ketika dirinya belajar di pondok pesantren, yakni KH. Ahmad Romli Jepara dan KH. Ahmad Dimyati Rois ketika dirinya nyantri di PP. Kaliwungu Kendal. Dorongan yang begitu kuat, meski dirinya merasa belum cukup ilmunya. Akan tetapi, karena ini merupakan pesan dan amanat dari gurunya baik ketika nyantri di Kaliwungu Kendal maupun di Kajen Margoyoso Pati, maka dengan diniati khidmah kepada gurunya serta dorongan dari abahnya, Ustadz Hasanuddin dibantu ayahandanya yang telah lebih dahulu mendirikan pesantren, memulainya dengan mengaji kitab Al Muwatto’

Semula hanya ada dua santri

Ketika Ustadz Hasanuddin memulai kegiatan pesantren pada tahun 1986 dengan mengaji kitab Al Muwatto’ tidak banyak yang mengikutinya, bahkan hanya diikuti oleh dua orang santri, itupun pindahan dari pesantren lain. Pasalnya, di samping belum adanya asrama untuk santri, juga belum banyak yang tahu kalau ditempat ini ada kegiatan rutin pengajian kitab kuning. Akan tetapi seiring dengan perkembangan waktu dan tersebarnya informasi dari mulut ke mulut, semakin lama kegiatan pengajian kitab kuning semakin banyak diikuti santri yang datang dari berbagai tempat. Dan hingga kini asrama Pondok Pesantren yang berdiri kokoh di tengah pemukiman penduduk yang sangat padat, telah diisi sekitar seratus santri putra-putri yang didominasi santri asal luar jawa, seperti Lampung, Jambi, Sumatera Barat, dan Kalimantan.

Lazimnya, sebuah pesantren bangunannya berdiri di lahan yang cukup luas dengan beberapa blok bangunan yang terdiri dari rumah kiai, asrama santri, masjid hingga tempat belajar dan halaman yang cukup luas. Hal ini tidak berlaku bagi pesantren Manba’ul Falah yang lokasi pesantrennya berada di tengah-tengah kota dan dikelilingi home industri batik Pekalongan, Ustadz Hasanuddin yang masih cukup muda usianya tetap memberlakukan pola pengajarannya dengan sistem salaf, yakni tetap mengajarkan kitab kitab kuning yang menjadi rujukan utama para ulama ahlus sunnah wal jama’ah untuk mengambil rujukan dalam mengambil keputusan dengan memanfaatkan waktu utama setelah habis sholat Subuh, Dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya’. Akan tetapi jika ada santri yang ingin belajar ilmu umum, dipersilakan untuk belajar dan menuntut ilmu di luar seperti SMU, MAN atau perguruan tinggi dengan tetap mengikuti aturan pondok.

Spesialis ilmu nahwu

Pondok Pesantren yang semula bernama Wali Sampang ini, sejak berdirinya memang mengkhususkan diri mengkaji dalam bidang ilmu alat dan fiqih dengan jenjang kajian kitab dari jurumiyah, amriti, alfiah ibnu aqil. Di samping ilmu-ilmu dasar agama lainnya, yakni ilmu fiqih. Sehingga diharapkan alumni santri Manba’ul Falah kelak dapat mengamalkan ilmu di tengah-tengah masyarakat.

Dirinya merasa tidak khawatir, meski lokasi pesantrennya berada di tengah-tengah kota, santrinya akan terjerumus ke pola hidup yang tidak sesuai dengan nafas dan ruh pesantren. Apalagi para santri memiliki kesibukan yang luar biasa, yaitu di samping kegiatan utama berupa mengaji kitab kitab klasik, juga memiliki jadwal belajar khitobah dan tilawatil qur’an, sehingga nyaris dalam keseharian waktunya habis untuk belajar dan belajar.

Untuk membantu mengajar para santri, Ustadz Hasanuddin saat ini harus dibantu oleh enam ustadz/ustadzah. Hal ini perlu dilakukan, mengingat dirinya saat ini juga mempunyai jadwal pengajian di luar yang cukup padat. Hampir dalam seminggunya, Ustadz yang beristrikan Nur Hanifah asal Surobayan, Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ini harus menghadiri 23 majlis ta’lim yang tersebar di Kota Pekalongan dan sekitarnya.

Walhasil, kesungguhan dan ketekunan Ustadz Hasanuddin mengelola pesantren di tengah kota kini telah menuai hasil. Makin lama jumlah santri bertambah banyak, di samping dalam rangka menjalankan amanah dari gurunya, juga dirinya ingin membuktikan bahwa di tengah-tengah kota dari kepungan industri batik dan modernisasi zaman, pesantren tetap masih bisa dan bahkan dapat berkembang kegiatan pendidikan ala pesantren salaf. Meski tantangan dan hambatan ke depan semakin berat, seperti bangunan fisik yang tidak lagi mampu menampung untuk kegiatan santri dan lokasi berada di tengah pemukiman padat penduduk, Ustadz dengan 4 putra tetap yakin dan optimis pesantren yang dikelolanya akan mendapat tempat khusus bagi masyarakat yang akan haus akan ilmu ilmu agama, terutama bagi orang tua yang ingin putra putrinya agar tidak terseret dalam  kehidupan arus modernisasi yang semakin menyesatkan. [iz]

Ditulis dalam Pendidikan, Wiradesa | Tinggalkan sebuah Komentar »

Diduga Ngantuk, Trailer Sruduk Rumah

Posted by koranwopi pada Juli 25, 2009

PEKALONGAN – Diduga karena sopir ngantuk, truk tronton kehilangan kendali di Jalan Raya Kalibanger depan Mako Brimob Pekalongan kemarin sore sekitar pukul 19.30.
Truk dengan nomor polisi H 1993 QS tanpa muatan dari arah Semarang ini sebelumnya menabrak median tengah jalan, hingga berikutnya sopir membanting stir ke kiri menubruk pohon, tembok dan pos satpam di selatan jalan.
Saat membanting ke kiri, dari arah belakang sedang meluncur sepeda motor, sehingga tabrakan tidak bisa dihindari hingga motor tersangkut di bawah truk.
Akibatnya, pengendara motor yang diketahui bernama Wildan (22) warga Baros ini mengalami benturan keras, hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Motor yang ditungganginya dengan nopol G 5522 EC ini juga turut rusak.
Atas peristiwa ini, jalur Pantura Pekalongan sempat tersendat sebentar. Ini menyusul kesigapan aparat kepolisian yang langsung tiba dan melakukan ‘pembersihan’ pantura.
Truk ditarik dari nyungsepnya, sementara motor korban juga diamankan ke Polresta Pekalongan untuk penyelidikan.
Belum diketahui sejauhmana luka korban. Saksi mata yang tak lain adalah teman korban sendiri, Ali Firmansyah (19) asal Wiradesa mengatakan, “Wildan mencoba menghindari benturan saat truk membanting stir, namun malah tak bisa menguasai kendaraan,” jelasnya.
Akhirnya sepeda motor yang dikendarai Wildan menabrak truk tersebut. Hingga dia, masuk ke bawah kolong truk. Namun, berkat kesigapan teman korban, Wildan langsung dapat diselamatkan. “Untung langsung saya tarik,” ujarnya.
Namun dijelaskannya, wildan tetap mengalami luka cukup parah di bagian punggung. Dan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
Petugas polisi yang ditemui di lokasi enggan berkomentar banyak dan meyarankan ke Mapolresta untuk menemui Kasatlantas. (dal)

Ditulis dalam Metro Pekalongan | Tinggalkan sebuah Komentar »

Kejaksaan periksa mantan Camat Kedungwuni

Posted by koranwopi pada Juli 25, 2009

KAJEN – Mantan Camat Kedungwuni Bambang Iriyanto diperiksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Kajen dalam kasus dugaan penyimpangan dana kompensasi tukar guling tanah bengkok Desa Ambokembang, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, untuk pengembangan RSI Pekajangan, kemarin. Penyidik kejaksaan mengorek informasi sejauh mana keterlibatan camat dalam ruislag tersebut.

’’Rencana mantan Camat Kedungwuni hari ini (kemarin, red) kami periksa. Secara hierarki pemerintahan, di atas desa ada kecamatan. Kami ingin mengetahui sejauh mana keterlibatannya,” terang Kasi Pidsus Kejari Kajen, Sasmito SH, ditemui di Gedung Kejari Kajen, kemarin siang.

Dikatakan, pemeriksaan kasus dugaan penyimpangan dana kompensasi tukar guling di Desa Ambokembang sudah hampir selesai, termasuk menunggu penetapan tersangka. Pihak kejaksaan juga masih menunggu izin Bupati Pekalongan Dra Hj Siti Qomariyah MA untuk memeriksa Kepala Desa Ambokembang, Budi Satoto.

’’Semuanya hampir sudah dimintai keterangan. Untuk pemeriksaan kepala desa masih menunggu izin bupati,” terang Sasmito.

Diterangkan, besaran dana kompensasi yang tersirat dalam keputusan desa dan persetujuan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Ambokembang sebesar Rp 50 juta. Dana kompensasi ini semestinya digunakan untuk rehab gedung balai desa Ambokembang. ’’Yang dipakai baru sekitar Rp 5 juta. Itu digunakan untuk pengecatan dan pembuatan pintu,” ujar dia.

Disinggung soal informasi jika besaran dana kompensasi adalah Rp 125 juta, Sasmito menerangkan, pihak kejaksaan hanya memeriksa dana yang tersirat. Sedangkan kompensasi yang tidak tersirat sulit untuk dibuktikan. Untuk proses tukar guling sendiri, lanjut dia, sudah sesuai dengan prosedur.

’’Ketua yayasan H Riyanto dan bendahara juga sudah kami mintai keterangan,” kata dia.

Seperti diberitakan Wawasan, Kejari Kajen tengah mengusut dugaan penyimpangan dana kompensasi tukar guling (ruislag) tanah bengkok di Desa Ambokembang, untuk pengembangan RSI Pekajangan. Dalam tukar guling itu, dana kompensasi sebesar Rp 125 juta diduga untuk bancaan kepala desa, perangkat, BPD, dan LPMD Desa Ambokembang.

Sesuai prosedur
Sekretaris Desa Ambokembang, Didik Supriyadi mengaku tidak mengetahui secara persis besaran dana kompensasi dan peruntukannya. Dikatakan, proses tukar guling tanah sudah dilakukan sejak tahun 2006. Menurutnya, proses tukar guling tanah sudah sesuai dengan prosedur yang ada dengan melibatkan aparat dan lembaga desa, bagian hukum, pemerintahan, dan pertanahan. Luas tanah bengkok  sekitar 5 ribu meter persegi ditukar dengan lahan sawah seluas 800.300 meter persegi.

’’Setahu saya, kompensasi awal adalah Rp 50 juta untuk pengembangan kantor balai desa. Namun, informasi belakangan ini yang menyebutkan besaran kompensasi hingga Rp 125 juta saya tidak tahu, sebab yang mengambil uang adalah kepala desa,” kata dia. haw-bg

Ditulis dalam Kajen, Kedungwuni, Politik & Hukum | Tinggalkan sebuah Komentar »

Seni Batik, Sebuah Warisan Kekayaan Budaya Bangsa

Posted by koranwopi pada Juli 25, 2009

Kata batik berasal dari sebuah kata dalam bahasa Jawa yaitu ambatik yang artinya kurang lebih yaitu menuliskan atau menorehkan titik-titik. Dalam proses pembuatan kain batik, seorang pengrajin batik menorehkan motif-motif indah ke selembar kain mori dengan menggunakan canthing yang berisi lilin panas. Proses membatik ini dilakukan secara hati-hati dan sering kali seorang pengrajin batik harus menorehkan serangkaian titik-titik demi memperoleh sebuah motif batik yang rumit. Alat untuk membatik ialah canting. Sebuah alat yang berbentuk seperti pulpen dan terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bermulut sempit pada bagian ujungnya. Canting ini dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna pada saat pewarnaan. Pada proses awal pembuatan batik, seorang pembatik menorehkan lilin di kain putih dengan menggunakan canthing. Namun sebelum dilakukan penggambaran motif dengan menorehkan lilin panas, kain mori yang akan digunakan haruslah dicelup lebih dahulu ke dalam minyak tumbuh-tumbuhan serta larutan soda, guna memudahkan lilin melekat dan agar kain bisa lebih mudah menyerap zat warna. Setiap kali kain hendak diberi warna lain, bagian-bagian yang tidak boleh kena zat warna ditutup dengan lilin, sehingga makin banyak warna yang dipakai untuk menghias kain batik, makin lama juga pekerjaan menutup itu. Pada taraf yang terakhir, lapisan lilin yang menutupi kain mori dihilangkan dengan merebus kain dalam air mendidih setelah sebelumnya direndam dalam larutan soda abu (sodium silikat) untuk mengekalkan warna pada batik. Sebagai hasil akhir adalah selembar kain batik dengan motif-motif indah yang mempesona. Tehnik membatik sebenarnya sudah berumur ribuan tahun. Beberapa orang ahli bahkan menyebut bahwa tehnik membatik mungkin berasal dari kebudayaan kuno bangsa-bangsa di Afrika, Timur Tengah (bangsa Sumeria kuno) dan beberapa bangsa kuno di Asia yang terus menyebar hingga sampai ke Indonesia. Penyebaran tehnik dan budaya membatik ini bisa sampai ke Indonesia, rupanya berkat jasa para pedagang dari India yang sempat mengunjungi daerah-daerah di Indonesia pada beberapa abad silam. Pada awalnya kain batik hanya dikenal sebatas lingkungan keraton atau kerajaan di mana kain batik semula hanya dipakai oleh kalangan bangsawan dan raja-raja. Namun seiring dengan perkembangan, maka kain batik selanjutnya dikenal luas di kalangan rakyat dan terus berkembang hingga masa sekarang. Jumlah dan jenis motif kain batik yang mencapai ribuan jenis ini mempunyai ciri khas pada masing-masing daerah di Indonesia. Walaupun terdapat jenis batik cap, namun kain batik tulis yang dibuat dan dilukis dengan menggunakan canthing masih menduduki tingkat preferensi teratas dan masih begitu diminati oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Tingkat kesulitan dan kerumitan serta jenis kain yang digunakan turut mempengaruhi harga jual. Dewasa ini kain batik tidak saja berbahan kain mori, namun juga sudah banyak dijumpai kain batik yang berbahan kain poliester, rayon, hingga sutra. Bahkan kain batik yang terbuat dari bahan sutra harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Penyebaran Tehnik Membatik dan Seni Membatik Kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal secara luas sejak jaman kerajaan Majapahit dan tampaknya terus berkembang dan menular kepada kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah selesainya perang dunia I atau sekitar tahun 1920-an. Bahan yang digunakan dalam pembuatan kain batik secara tradisional antara lain bahan-bahan pewarna yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri seperti kayu pohon mengkudu, pace, kunyit, tinggi, soga, nila, sementara bahan sodanya dibuat dari soda abu, dan garamnya dibuat dari tanah lumpur. Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Mojokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Pusat kerajinan batik di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Daerah kerajinan batik yang terdekat dengan Mojokerto adalah di Jombang. Pada sekitar akhir abad ke-19 di Mojokerto, sudah dipakai bahan-bahan utama kerajinan batik seperti, kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya. Bahan kimia impor untuk pewarna batik baru dikenal setelah masa perang dunia I yang umumnya dijual oleh para pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap kemudian dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik buatan luar negeri. Cap atau stempel motif batik (pada jenis batik cap) dulu dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Pasar Porong dahulu dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedung cangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Saat terjadi krisis ekonomi dunia sebelum jaman Jepang dan saat penjajahan Jepang, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan Jepang. Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Sentra kerajinan batik yang dikenal sejak lebih dari seabad lalu adalah di desa Majan dan Simo. Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahit namun perkembangan seni batik mulai menyebar pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakarta. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta. Pembuatan batik Majan ini merupakan warisan seni sejak jaman perang Diponegoro. Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (terbuat dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Salah satu sentra batik sejak dahulu ada di daerah desa Sembung, dimana pada akhir abad ke-19 para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Solo yang datang di Tulungagung. Hingga sekarang masih terdapat beberapa keluarga pengrajin batik dari Solo yang menetap di daerah Sembung. Terdapat pula daerah kerajinan batik di Trenggalek dan beberapa di Kediri, walau sebagian berskala kerajinan rumah tangga dan termasuk kerajinan batik tulis. Di wilayah Jawa Timur, riwayat seni batik di daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam. Di daerah Tegalsari, Ponorogo, ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo. Seni batik mulai menyebar ke Tegalsari seiring dengan diboyongnya putri kraton Solo ke Tegalsari oleh Kyai Hasan Basri. Di masa itu banyak keluarga kraton Solo belajar di pesantren tersebut. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Daerah perbatikan di Ponorogo yang bisa kita lihat hingga sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu bahan kain batik masih memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih impor baru dikenal di Indonesia sekitar akhir abad ke-19. Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia pertama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia. Batik Solo dan Yogyakarta pada sekitar abad 17,18 dan 19, semakin berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan batik pada masa dahulu, masih memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”. Asal-usul batik di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah sentra batik pertama ialah di desa Plered. Kerajinan batik pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu dan kemudian meluas diikuti oleh istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Akibat dari peperangan pada jaman penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah baru seperti Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan terus berkembang menurut kreativitas dan kekhasan budaya lokal. Kain batik khas Solo dan Yogyakarta yang mulai merambah wilayah Jawa Timur selanjutnya menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Terus menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Di wilayah Jawa Barat, batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon. Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah selesainya peperangan tahun 1830 yang kemudian mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewarna dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah bersemu kuning. Tehnik membatik kemudian ditularkan pada rakyat Sokaraja dan pada sekitar akhir abad ke-19 para pembatik di wilayah ini sudah menjalin hubungan dagang dengan para pembatik dari daerah Solo dan Ponorogo. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh warga keturunan Cina yang juga berdagang batik. Selanjutnya seni batik mulai berkembang di daerah pesisir pantai, selain di daerah Pekalongan sendiri, yaitu tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-19. Perkembangan seni dan tehnik membatik keluar dari wilayah Yogyakarta dan Solo selanjutnya semakin meluas. Sampai awal abad ke-20 kegiatan seni batik yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian impor. Batik cap baru dikenal setelah masa perang dunia I dan mulai banyak dipakai obat dan bahan kimia untuk batik buatan Jerman dan Inggris. Pada sekitar awal abad ke-20, di Pekajangan terdapat usaha tenun yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Tak lama kemudian seni batik pun mulai dikerjakan oleh para pekerja yang semula bekerja di sektor kerajinan tenun ini. Banyak tenaga kerja pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto beralih pekerjaan ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula. Seni batik mulai dikenal di Tegal pada akhir abad ke-19. Pewarna yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya adalah hasil tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian berkembang menjadi warna merah-biru. Batik asal Tegal saat itu sudah mulai merambah Jawa Barat dan para pedagang inilah yang konon mengembangkan kerajinan batik di Tasik dan Ciamis. Pada awal abad ke-20 sudah dikenal mori impor dan bahan kimia impor untuk pembuatan batik. Pengusaha-pengusaha batik di Tegal masa itu lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari pedagang keturunan Cina di Pekalongan dengan cara kredit dan batiknya dijual pada yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Perkembangan kerajinan batik di Kebumen lebih cepat daripada di Purworejo. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya. Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen, yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Seni batik di desa Bayat sudah ada sejak jaman dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari kerajinan dan buruh batik di Solo. Seni batik di Kebumen dikenal sekitar abad ke-19 dengan dibawa oleh pedagang Islam dari Yogya yang mengembangkan batik di Kebumen. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan tengabang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-20 untuk membuat polanya digunakan kunyit yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah pohon-pohon, burung-burungan. Bahan pewarna yang digunakan berasal dari pohon mengkudu dan nila tom. Pemakaian bahan kimia impor untuk pembuatan batik di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah desa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya. Seni batik di daerah Tasikmalaya diduga dikenal sejak jaman kerajaan “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum di sana yang berguna untuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan ialah Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota. Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak di pinggir kota Tasikmalaya sekarang. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna. Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-19 setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang. Motif batik Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh motif dan warna dari Garut. Sampai awal-awal abad ke-20 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaitannya dengan kerajaan yang ada di daerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuhan dan Keprabonan. Ciri khas batik Cirebon sebagaian besar bermotifkan gambar lambang hutan dan margasatwa. Motif laut yang kemudian muncul banyak dipengaruhi oleh budaya Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Batik Cirebonan yang bergambar garuda banyak dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo. Di Jakarta, seni batik dikenal dan berkembang bersamaan dengan daerah-daerah sentra batik lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-19. Seni batik dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal di daerah sentra batik. Daerah sentra batik di Jakarta tersebar dekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Hilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet. Jakarta sejak jaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhan Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Pedagang-pedagang batik yang banyak ialah bangsa warga keturunan Cina dan Arab, selain sejumlah kecil penduduk lokal. Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya, dengan warnanya yang sama dengan batik Banyumas. Batik kemudian berkembang ke seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, seperti daerah Sumatera Barat misalnya, khususnya daerah Padang. Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan dan Solo serta Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Batik cap mulai berkembang di jaman penjajahan Belanda saat jumlah permintaan akan batik tulis semakin meningkat dan cenderung kewalahan untuk dipenuhi. Bahan pewarna batik umumnya dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, damar dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan. Perusahaan batik pertama muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh sekitar 1948, yaitu Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab. Warna batik tulis dari Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramayu-an, Solo dan Yogya. Sekarang batik produksi Padang sudah berkembang lebih maju walau masih belum bersaing sebaik kain batik buatan Jawa. Batik cap yang ada kebanyakan berupa sarung. Seni batik dari waktu ke waktu terus menyebar ke berbagai pelosok daerah di Indonesia seperti Bali, dan banyak daerah lain dengan warna-warna beragam mulai dari warna hijau, kuning, merah, biru, putih dan coklat. Melestarikan Seni Budaya Batik di Indonesia Kain batik merupakan kekayaan budaya Indonesia yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Sebenarnya sangat disayangkan bahwa saat ini batik tradisional khas Indonesia masih sulit untuk dipatenkan, padahal jumlah dan jenis kain batik dari tiap daerah di Indonesia kalau dihitung bisa mencapai ribuan jenis. Ragam dan corak motif yang khas dari tiap daerah merupakan sebuah kekayaan budaya yang patut senantiasa dilestarikan. Sebagai contoh, batik pesisir umumnya memiliki corak maskulin seperti pada corak “Mega Mendung”, karena di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki. Ragam corak dan warna batik sedikit banyak juga dipengaruhi pula oleh berbagai pengaruh asing. Misalnya saja pada daerah-daerah pesisir pantai, corak kain batik menyerap berbagai pengaruh budaya luar yang dibawa para pedagang asing. Warna-warna cerah seperti merah yang mulanya dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak burung phoenix, akhirnya juga diadaptasi ke dalam motif dan corak batik pesisir, misalnya saja batik Madura, yang sering kali diwarnai dengan warna merah, hitam, hijau, dan putih serta dihiasi oleh berbagai motif bunga-bungaan dan motif gambar burung. Batik khas Madura umumnya banyak digunakan sebagai sarung, walaupun ada beberapa yang khusus didesain untuk kemeja resmi pesta. Pusat-pusat kerajinan batik dan perdagangan batik di Madura adalah di Pamekasan dan Bangkalan. Pedagang batik di Madura umumnya adalah warga keturunan Arab selain warga lokal yang memegang teguh budaya Madura dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa penjajah Eropa yang juga mengambil minat kepada batik, memberikan pengaruh besar dalam motif dan corak batik khas Indonesia, seperti motif bunga-bungaan (bunga tulip) dan aneka motif benda lain, termasuk pula warna-warna asing seperti warna biru yang mulai banyak dijumpai dalam batik-batik Indonesia. Berbagai corak batik kuno khas era penjajahan Belanda maupun batik modern buatan Indonesia bisa disaksikan di Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda. Tampaknya kekayaan intelektual bangsa Indonesia berupa motif-motif batik tradisional, yang ribuan macam dan jenisnya ini, hari demi hari semakin banyak dijiplak dan ditiru oleh para pengrajin dari negara-negara lain demi kepentingan ekonomi. Bila pemerintah dan para pengrajin batik mau berusaha bersama-sama untuk berusaha lebih keras mendaftar setiap jenis motif dan kekhasan batik tradisional untuk dipatenkan secara internasional, maka hal ini jelas akan merupakan sebuah peluang yang baik bagi berkembangnya bisnis batik berpangsa pasar internasional. Museum batik yang ada di Belanda, yaitu Tropenmuseum yang mengkoleksi ribuan jenis kain batik, selalu saja dipadati oleh pengunjung, dan ini juga berarti sarana promosi yang efektif dalam mempopulerkan tradisi busana batik khas Indonesia di tingkat internasional. Pameran batik di luar negeri, terutama di negeri Belanda senantiasa banyak diminati pengunjung. Bahkan publikasi pameran batik di Belanda sering dimuat di majalah-majalah seperti majalah Round About dan majalah Moesson, yang tidak hanya terbit di Belanda, namun juga terbit di seluruh Eropa, Amerika, dan Australia. Batik khas Indonesia bahkan pernah diliput oleh majalah Island, Amerika. Acara peragaan busana batik Indonesia juga pernah ditayangkan oleh Fashion TV, sebuah televisi Perancis yang mengkhususkan diri pada penayangan peragaan busana dari berbagai negara. Sungguh sayang bila berbagai kesempatan yang ada kita lewatkan begitu saja. Mari kita giatkan industri batik di tanah air!

Ditulis dalam Fashion, Sastra & Budaya, Seputar Pekalongan | 1 Komentar »

SOETEDJO BANTU ANAK PENDERITA GIZI BURUK

Posted by koranwopi pada April 25, 2009

Pak Soetedjo Yuwono mantan Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Sesmenko Kesar) berasal dari BKKBN bahkan mengawali tugasnya sebagai Petugas Lapangan Keluarga Berencana PLKB), maka beliau tahu betul permasalahan yang ada di sekelilingnya.
Dalam sosialisasi menjelang Pemilu medio awal Desember 2008, yang berlangsung di area Koperasi Pegawai Negeri Kecamatan Paninggaran, Pekalongan dihadiri sebanyak 280 orang, Pak Tedjo berdialog akrab dengan ibi-ibu yang hadir.
Munawar, Pengurus Kecamatan Golkar Paninggaran menjawab pertanyaan Gemari selanjutnya berkata dalam forum tanya jawab itu diketahui adanya dua anak kurang gizi di Desa Tanggeran. “Yang saya jumpai di lapangan Pak Tedjo itu orangnya memang tanggap. Memang kenyataannya begitu Pak,” ucap Munawar, Pengurus Kecamatan Partai Golkar Paninggaran sembari mencontohkan, tanpa diacarakan usai acara sosialisasi Pak Tedjo turun ke lapangan.
“Pak Tedjo minta diantar menemui dua anak yang menderita gizi buruk yang ketika itu langsung memberikan bantuan masing-masing 1 juta rupiah, “ ucap Dirdjo, perangkat dusun yang giat memperhatikan kemajuan desanya. Munawar menambahkan ketika terjadi Bencana Alam di Potosari, Pak Tedjo juga menyempatkan berkunjung ke rumah korban bencana antara lain ke rumah Pak Hadi Waluyo, warga desa Potosari yang tertimpa musibah.
Dijumpai Gemari di di desanya (TANGGERAN) pertengahan Januari 2009 mBah Ripah melalui Gemari menyampaikan ucapan terima kasihnya.“Matur kesuwun sanget diparingi arta Pak Tedjo. Kula nderek ndedonga Pak Tedjo diparingingana lancar, waras, teguh rahayu, gagah perkosa, adohno bilahi, cedakna rejeki, nyambut gawe diparingana lancar ,”(Terima kasih sekali diberi uang Pak Tedjo.Saya ikut berdoa, Pak Tedjo diberi Alloh kelancaran, kesehatan, kuat dan sehat, gagah dan kuat, jauh dari bencana, didekatkan dan dilancarkan pekerjaanya), ucap Mbah Ripah dan Bu Fatriah dengan mata berkaca, di amini seluruh yang hadir
Mbah Ripah yang menggendong cucunya Sintia Ernawati, berkata dua bulan lalu cucunya kurang gizi. Bersyuku sekarang cucunya sudah jauh lebih sehat. Sudah tidak pucat dan mau jalan. Hal serupa diucap ibu Fatriah yang menggendong Syafaul Jannah (anak kedua). Sang suami Wahudi yang sehari-hari bekerja mencari rumput untuk hewan yang “digaduh”nya bersyukur anaknya sudah mulai bugar.
Bu Bidan Yatini didampingi Ahmad Susiyanto (suami) serta Kader Desa antara lain Bu Titik Sukarsih, Bu Kasmirah, menjawab Gemari berkata sekarang seperti teman lain sedesanya Ernawati dan Syafaul Jannah selalu dibawa mengikuti kegiatan Posyandu. “Sebenarnya masyarakat di Tanggeran sejak dulu sudah rajin mengikuti Posyandu. Hanya saja ada yang menjadi malu ketika timbangaannya tidak naik-naik, ucap Bu bidan Yatini. (H.Nur)

Ditulis dalam Paninggaran, Pelayanan Umum, Politik & Hukum | Tinggalkan sebuah Komentar »

Putus Cinta, Tenggak Racun Serangga

Posted by koranwopi pada April 25, 2009

PEKALONGAN – Kisah remaja warga Desa Salakbrojo Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan ini layaknya sinetron. Gara-gara putus cinta nekat mengakhiri hidup dengan menenggak racun serangga.
Pemuda malang itu adalah Purniawan 18, warga Dukuh Brajan Kulon RT 05 RW 02, Desa Salakbrojo, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Ia mengakhiri hidup dengan meminum racun serangga merek Indodan 350 cc, Sabtu (18/4) kemarin sekitar pukul 17.30 WIB. Tewasnya Purniawan menggemparkan warga yang akan melaksanakan sholat Magrib.
Dalam sepekan terakhir, korban tampak murung. Usut punya usut, dia baru putus cinta. Diduga karena tak kuat menanggung derita batin, korban memutuskan menghabisi nyawanya sendiri.
Tewasnya Purniawan kali pertama diketahui ibu kandungnya Asiah, 50, saat beristirahat di ruang tengah. Saat itu, Asiah melihat anaknya  muntah-muntah. Segera Asiah menyuruh Supeno, 24, yang juga kakak korban, minta tolong pada tetangganya.  Sayang,  nyawanya tak dapat diselamatkan. Kapolsek Kedungwuni AKP Sawal membenarkan kejadian ini. “Korban  bunuh diri  meminum racun serangga,” katanya.
Sementara itu, Minggu (19/4) kemarin kejadian naas juga dialami warga Pekalongan. Rustal, 45 warga Dukuh Jaten RT 02 RW 12, Desa Kesesi, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan tewas tercebur sumur. Diduga, Rustal terpeleset masuk sumur milik Winarti, 50, yang masih tetangganya.
Pada Sabtu (18/4) sore sekitar pukul 18.00 korban menuju ke Sumur milik tetangganya itu untuk keperluan mengambil air wudhu. Korban terpeleset dan masuk kedalam sumur yang tak berkluwung itu.  Malam itu keluarganya sempat mencari korban namun tak ditemukan. Esoknya,  ketika pemilik sumur hendak mengambil air melihat sesosok  menyembul di sumur.
Semula Winarti mengira sosok itu bukan manusia, karena kepalanya tampak seperti tempurung kelapa. Namun setelah diperhatikan, terlihat telinga korban. Peristiwa itu segera dilaporkan pada Polsek Sragi. Korban kemudian dievakuasi.Kapolsek Sragi AKP Zarkonil mengatakan, korban diduga terpeleset mausk sumur.
Peristiwa tragis juga dialami Sardiyo, 37, warga Dukuh Bubak, Desa Gejlik, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan.  Minggu siang ia  tewas setelah disambar petir saat  mencangkul di tengah sawah. Saat itu, hujan lebat, Sardiyo tetap menyangkul. Tiba-tiba, petir menyambar tubuhnya. “Warga hendaknya hati-hati jika turun hujan, lebih baik berteduh sebentar menunggu hujan reda,”himbau Kapolsek Kajen AKP Suyono SH. (dik/lis)

Ditulis dalam Kedungwuni, Politik & Hukum | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pulang dari Arab, TKW asal Pekalongan lumpuh

Posted by koranwopi pada April 25, 2009

PEKALONGAN – Seorang Tenaga Kerja Wanita asal Doro, Pekalongan, Jawa Tengah mengalami kelumpuhan dan hilang ingatan setelah kembali dari Saudi Arabi. TKW bernama Sumarni (40) bekerja di Arab sejak tahun 2008 lalu.

Saat ini, Sumarni yang diduga dianiaya oleh majikannya, hanya bisa terbaring lemah di Ruang Matahari, Rumah Sakit Umum Daerah Kajen. Terlihat dari tubuh beberapa luka bekas penganiayaan, seperti luka lebam dan bekas jahitan.

Kaki dan tangan kiri korban mengalami lumpuh dan tidak dapat digerakan, ingatan korban pun hilang, karena sekembali dari Arab korban tidak ingat sama sekali anggota keluarganya.

“Sejak pulang, ibu saya tidak bisa bicara sedikitpun, dia hanya diam saja dengan pandangan kosong,” kata Tarwiyah, anak korban yang ditemui di rumah sakit, sore ini.

Sebelumnya keluarga tidak mengetahui, kalau korban kembali ke Indonesia dalam keadaan sakit. Saat itu, keluarga diminta untuk menjemput korban di Jakarta.

Tetapi, saat tiba, korban sudah berada di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, dan sudah dalam keadaan lumpuh. Keluarga kemudian membawa korban pulang ke Pekalongan.

“Padahal waktu berangkat, ibu saya dalam keadaan sehat, tidak ada bekas luka pukul dan jahitan di kepalanya,” tuturnya.

Karena itu, keluarga berharap, pihak PJTKI memberikan perhatian dan meminta pemerintah Indonesia mengusut kasus yang dialami Sumarni.
(sit/vvn)

Ditulis dalam Doro, Pelayanan Umum, Politik & Hukum | Tinggalkan sebuah Komentar »

The Gain Band Pendatang Baru

Posted by koranwopi pada April 25, 2009

the-gain

The Gain kini setelah lolos dalam album kompilasi yang di adakan oleh Garda Musica akhirnya membuat lagu The Gain yang berjuul Sia-sia kini dapat di request di radio sebagai grub band pendatang, kini lagunya yang mulai banyak di minati warga pekalongan khususnya pendengar setia radio Kfm, dan pendengar setia radio Mfm Batang, bagi kalian yang merasa salah satu penggemar band pendatang baru ini, ayo mulai sekarang reques lagu mereka….
The Gain merupakan band pendatang baru yang keberadaannya sekarang sudah banyak di lirik oleh musisi pekalongan pada umumnya…

The Gain sebuah grub band yang berasal dari kota megono Pekalongan,The Gain beraliran pop rock membawakan lagu-lagu indie dengan aransement yang padat dan enak di nikmati, dengan 6 personil(pada awal), ingin mencoba meraih keperuntungannya di kancah dunia musik pada umumnya. The Gain yang di manageri oleh Izza Zulfana Faqih, S.Ag. berkediaman di Kertijayang Gang 2 no.38 Buaran Pekalongan 51171 yang sekaligus di jadikan sebagai basecamp The Gain. bagi kalian yang ingin kenal lebih jauh dengan mereka kalian bisa hubungi di contact person : (0285) 432582 / 08156917560 / 085740463111. atau di thegainband@gmail.com

Ditulis dalam Buaran, Musik dan Film, Selebritas | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.