Kata batik berasal dari sebuah kata dalam bahasa Jawa yaitu ambatik yang artinya kurang lebih yaitu menuliskan atau menorehkan titik-titik. Dalam proses pembuatan kain batik, seorang pengrajin batik menorehkan motif-motif indah ke selembar kain mori dengan menggunakan canthing yang berisi lilin panas. Proses membatik ini dilakukan secara hati-hati dan sering kali seorang pengrajin batik harus menorehkan serangkaian titik-titik demi memperoleh sebuah motif batik yang rumit. Alat untuk membatik ialah canting. Sebuah alat yang berbentuk seperti pulpen dan terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bermulut sempit pada bagian ujungnya. Canting ini dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna pada saat pewarnaan. Pada proses awal pembuatan batik, seorang pembatik menorehkan lilin di kain putih dengan menggunakan canthing. Namun sebelum dilakukan penggambaran motif dengan menorehkan lilin panas, kain mori yang akan digunakan haruslah dicelup lebih dahulu ke dalam minyak tumbuh-tumbuhan serta larutan soda, guna memudahkan lilin melekat dan agar kain bisa lebih mudah menyerap zat warna. Setiap kali kain hendak diberi warna lain, bagian-bagian yang tidak boleh kena zat warna ditutup dengan lilin, sehingga makin banyak warna yang dipakai untuk menghias kain batik, makin lama juga pekerjaan menutup itu. Pada taraf yang terakhir, lapisan lilin yang menutupi kain mori dihilangkan dengan merebus kain dalam air mendidih setelah sebelumnya direndam dalam larutan soda abu (sodium silikat) untuk mengekalkan warna pada batik. Sebagai hasil akhir adalah selembar kain batik dengan motif-motif indah yang mempesona. Tehnik membatik sebenarnya sudah berumur ribuan tahun. Beberapa orang ahli bahkan menyebut bahwa tehnik membatik mungkin berasal dari kebudayaan kuno bangsa-bangsa di Afrika, Timur Tengah (bangsa Sumeria kuno) dan beberapa bangsa kuno di Asia yang terus menyebar hingga sampai ke Indonesia. Penyebaran tehnik dan budaya membatik ini bisa sampai ke Indonesia, rupanya berkat jasa para pedagang dari India yang sempat mengunjungi daerah-daerah di Indonesia pada beberapa abad silam. Pada awalnya kain batik hanya dikenal sebatas lingkungan keraton atau kerajaan di mana kain batik semula hanya dipakai oleh kalangan bangsawan dan raja-raja. Namun seiring dengan perkembangan, maka kain batik selanjutnya dikenal luas di kalangan rakyat dan terus berkembang hingga masa sekarang. Jumlah dan jenis motif kain batik yang mencapai ribuan jenis ini mempunyai ciri khas pada masing-masing daerah di Indonesia. Walaupun terdapat jenis batik cap, namun kain batik tulis yang dibuat dan dilukis dengan menggunakan canthing masih menduduki tingkat preferensi teratas dan masih begitu diminati oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Tingkat kesulitan dan kerumitan serta jenis kain yang digunakan turut mempengaruhi harga jual. Dewasa ini kain batik tidak saja berbahan kain mori, namun juga sudah banyak dijumpai kain batik yang berbahan kain poliester, rayon, hingga sutra. Bahkan kain batik yang terbuat dari bahan sutra harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Penyebaran Tehnik Membatik dan Seni Membatik Kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal secara luas sejak jaman kerajaan Majapahit dan tampaknya terus berkembang dan menular kepada kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah selesainya perang dunia I atau sekitar tahun 1920-an. Bahan yang digunakan dalam pembuatan kain batik secara tradisional antara lain bahan-bahan pewarna yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri seperti kayu pohon mengkudu, pace, kunyit, tinggi, soga, nila, sementara bahan sodanya dibuat dari soda abu, dan garamnya dibuat dari tanah lumpur. Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Mojokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Pusat kerajinan batik di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Daerah kerajinan batik yang terdekat dengan Mojokerto adalah di Jombang. Pada sekitar akhir abad ke-19 di Mojokerto, sudah dipakai bahan-bahan utama kerajinan batik seperti, kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya. Bahan kimia impor untuk pewarna batik baru dikenal setelah masa perang dunia I yang umumnya dijual oleh para pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap kemudian dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik buatan luar negeri. Cap atau stempel motif batik (pada jenis batik cap) dulu dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Pasar Porong dahulu dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedung cangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Saat terjadi krisis ekonomi dunia sebelum jaman Jepang dan saat penjajahan Jepang, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan Jepang. Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Sentra kerajinan batik yang dikenal sejak lebih dari seabad lalu adalah di desa Majan dan Simo. Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahit namun perkembangan seni batik mulai menyebar pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakarta. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta. Pembuatan batik Majan ini merupakan warisan seni sejak jaman perang Diponegoro. Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (terbuat dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Salah satu sentra batik sejak dahulu ada di daerah desa Sembung, dimana pada akhir abad ke-19 para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Solo yang datang di Tulungagung. Hingga sekarang masih terdapat beberapa keluarga pengrajin batik dari Solo yang menetap di daerah Sembung. Terdapat pula daerah kerajinan batik di Trenggalek dan beberapa di Kediri, walau sebagian berskala kerajinan rumah tangga dan termasuk kerajinan batik tulis. Di wilayah Jawa Timur, riwayat seni batik di daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam. Di daerah Tegalsari, Ponorogo, ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo. Seni batik mulai menyebar ke Tegalsari seiring dengan diboyongnya putri kraton Solo ke Tegalsari oleh Kyai Hasan Basri. Di masa itu banyak keluarga kraton Solo belajar di pesantren tersebut. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Daerah perbatikan di Ponorogo yang bisa kita lihat hingga sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu bahan kain batik masih memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih impor baru dikenal di Indonesia sekitar akhir abad ke-19. Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia pertama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia. Batik Solo dan Yogyakarta pada sekitar abad 17,18 dan 19, semakin berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan batik pada masa dahulu, masih memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”. Asal-usul batik di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah sentra batik pertama ialah di desa Plered. Kerajinan batik pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu dan kemudian meluas diikuti oleh istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Akibat dari peperangan pada jaman penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah baru seperti Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan terus berkembang menurut kreativitas dan kekhasan budaya lokal. Kain batik khas Solo dan Yogyakarta yang mulai merambah wilayah Jawa Timur selanjutnya menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Terus menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Di wilayah Jawa Barat, batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon. Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah selesainya peperangan tahun 1830 yang kemudian mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewarna dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah bersemu kuning. Tehnik membatik kemudian ditularkan pada rakyat Sokaraja dan pada sekitar akhir abad ke-19 para pembatik di wilayah ini sudah menjalin hubungan dagang dengan para pembatik dari daerah Solo dan Ponorogo. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh warga keturunan Cina yang juga berdagang batik. Selanjutnya seni batik mulai berkembang di daerah pesisir pantai, selain di daerah Pekalongan sendiri, yaitu tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-19. Perkembangan seni dan tehnik membatik keluar dari wilayah Yogyakarta dan Solo selanjutnya semakin meluas. Sampai awal abad ke-20 kegiatan seni batik yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian impor. Batik cap baru dikenal setelah masa perang dunia I dan mulai banyak dipakai obat dan bahan kimia untuk batik buatan Jerman dan Inggris. Pada sekitar awal abad ke-20, di Pekajangan terdapat usaha tenun yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Tak lama kemudian seni batik pun mulai dikerjakan oleh para pekerja yang semula bekerja di sektor kerajinan tenun ini. Banyak tenaga kerja pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto beralih pekerjaan ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula. Seni batik mulai dikenal di Tegal pada akhir abad ke-19. Pewarna yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya adalah hasil tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian berkembang menjadi warna merah-biru. Batik asal Tegal saat itu sudah mulai merambah Jawa Barat dan para pedagang inilah yang konon mengembangkan kerajinan batik di Tasik dan Ciamis. Pada awal abad ke-20 sudah dikenal mori impor dan bahan kimia impor untuk pembuatan batik. Pengusaha-pengusaha batik di Tegal masa itu lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari pedagang keturunan Cina di Pekalongan dengan cara kredit dan batiknya dijual pada yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Perkembangan kerajinan batik di Kebumen lebih cepat daripada di Purworejo. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya. Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen, yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Seni batik di desa Bayat sudah ada sejak jaman dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari kerajinan dan buruh batik di Solo. Seni batik di Kebumen dikenal sekitar abad ke-19 dengan dibawa oleh pedagang Islam dari Yogya yang mengembangkan batik di Kebumen. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan tengabang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-20 untuk membuat polanya digunakan kunyit yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah pohon-pohon, burung-burungan. Bahan pewarna yang digunakan berasal dari pohon mengkudu dan nila tom. Pemakaian bahan kimia impor untuk pembuatan batik di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah desa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya. Seni batik di daerah Tasikmalaya diduga dikenal sejak jaman kerajaan “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum di sana yang berguna untuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan ialah Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota. Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak di pinggir kota Tasikmalaya sekarang. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna. Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-19 setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang. Motif batik Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh motif dan warna dari Garut. Sampai awal-awal abad ke-20 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaitannya dengan kerajaan yang ada di daerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuhan dan Keprabonan. Ciri khas batik Cirebon sebagaian besar bermotifkan gambar lambang hutan dan margasatwa. Motif laut yang kemudian muncul banyak dipengaruhi oleh budaya Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Batik Cirebonan yang bergambar garuda banyak dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo. Di Jakarta, seni batik dikenal dan berkembang bersamaan dengan daerah-daerah sentra batik lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-19. Seni batik dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal di daerah sentra batik. Daerah sentra batik di Jakarta tersebar dekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Hilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet. Jakarta sejak jaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhan Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Pedagang-pedagang batik yang banyak ialah bangsa warga keturunan Cina dan Arab, selain sejumlah kecil penduduk lokal. Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya, dengan warnanya yang sama dengan batik Banyumas. Batik kemudian berkembang ke seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, seperti daerah Sumatera Barat misalnya, khususnya daerah Padang. Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan dan Solo serta Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Batik cap mulai berkembang di jaman penjajahan Belanda saat jumlah permintaan akan batik tulis semakin meningkat dan cenderung kewalahan untuk dipenuhi. Bahan pewarna batik umumnya dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, damar dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan. Perusahaan batik pertama muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh sekitar 1948, yaitu Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab. Warna batik tulis dari Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramayu-an, Solo dan Yogya. Sekarang batik produksi Padang sudah berkembang lebih maju walau masih belum bersaing sebaik kain batik buatan Jawa. Batik cap yang ada kebanyakan berupa sarung. Seni batik dari waktu ke waktu terus menyebar ke berbagai pelosok daerah di Indonesia seperti Bali, dan banyak daerah lain dengan warna-warna beragam mulai dari warna hijau, kuning, merah, biru, putih dan coklat. Melestarikan Seni Budaya Batik di Indonesia Kain batik merupakan kekayaan budaya Indonesia yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Sebenarnya sangat disayangkan bahwa saat ini batik tradisional khas Indonesia masih sulit untuk dipatenkan, padahal jumlah dan jenis kain batik dari tiap daerah di Indonesia kalau dihitung bisa mencapai ribuan jenis. Ragam dan corak motif yang khas dari tiap daerah merupakan sebuah kekayaan budaya yang patut senantiasa dilestarikan. Sebagai contoh, batik pesisir umumnya memiliki corak maskulin seperti pada corak “Mega Mendung”, karena di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki. Ragam corak dan warna batik sedikit banyak juga dipengaruhi pula oleh berbagai pengaruh asing. Misalnya saja pada daerah-daerah pesisir pantai, corak kain batik menyerap berbagai pengaruh budaya luar yang dibawa para pedagang asing. Warna-warna cerah seperti merah yang mulanya dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak burung phoenix, akhirnya juga diadaptasi ke dalam motif dan corak batik pesisir, misalnya saja batik Madura, yang sering kali diwarnai dengan warna merah, hitam, hijau, dan putih serta dihiasi oleh berbagai motif bunga-bungaan dan motif gambar burung. Batik khas Madura umumnya banyak digunakan sebagai sarung, walaupun ada beberapa yang khusus didesain untuk kemeja resmi pesta. Pusat-pusat kerajinan batik dan perdagangan batik di Madura adalah di Pamekasan dan Bangkalan. Pedagang batik di Madura umumnya adalah warga keturunan Arab selain warga lokal yang memegang teguh budaya Madura dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa penjajah Eropa yang juga mengambil minat kepada batik, memberikan pengaruh besar dalam motif dan corak batik khas Indonesia, seperti motif bunga-bungaan (bunga tulip) dan aneka motif benda lain, termasuk pula warna-warna asing seperti warna biru yang mulai banyak dijumpai dalam batik-batik Indonesia. Berbagai corak batik kuno khas era penjajahan Belanda maupun batik modern buatan Indonesia bisa disaksikan di Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda. Tampaknya kekayaan intelektual bangsa Indonesia berupa motif-motif batik tradisional, yang ribuan macam dan jenisnya ini, hari demi hari semakin banyak dijiplak dan ditiru oleh para pengrajin dari negara-negara lain demi kepentingan ekonomi. Bila pemerintah dan para pengrajin batik mau berusaha bersama-sama untuk berusaha lebih keras mendaftar setiap jenis motif dan kekhasan batik tradisional untuk dipatenkan secara internasional, maka hal ini jelas akan merupakan sebuah peluang yang baik bagi berkembangnya bisnis batik berpangsa pasar internasional. Museum batik yang ada di Belanda, yaitu Tropenmuseum yang mengkoleksi ribuan jenis kain batik, selalu saja dipadati oleh pengunjung, dan ini juga berarti sarana promosi yang efektif dalam mempopulerkan tradisi busana batik khas Indonesia di tingkat internasional. Pameran batik di luar negeri, terutama di negeri Belanda senantiasa banyak diminati pengunjung. Bahkan publikasi pameran batik di Belanda sering dimuat di majalah-majalah seperti majalah Round About dan majalah Moesson, yang tidak hanya terbit di Belanda, namun juga terbit di seluruh Eropa, Amerika, dan Australia. Batik khas Indonesia bahkan pernah diliput oleh majalah Island, Amerika. Acara peragaan busana batik Indonesia juga pernah ditayangkan oleh Fashion TV, sebuah televisi Perancis yang mengkhususkan diri pada penayangan peragaan busana dari berbagai negara. Sungguh sayang bila berbagai kesempatan yang ada kita lewatkan begitu saja. Mari kita giatkan industri batik di tanah air!
Arsip untuk ‘Fashion’ Kategori
Seni Batik, Sebuah Warisan Kekayaan Budaya Bangsa
Posted by koranwopi pada Juli 25, 2009
Ditulis dalam Fashion, Sastra & Budaya, Seputar Pekalongan | 1 Komentar »
Must Have Item for Women
Posted by koranwopi pada April 24, 2009

TAHUKAH Anda,tidak perlu memiliki satu lemari penuh pakaian bila Anda bisa menggunakan teknik padu padan dengan tepat.
Anda bisa tampil berbeda setiap harinya dengan menggunakan item busana yang sama, dengan sedikit penambahan aksen ataupun perubahan warna. Untuk itu, setidaknya Anda harus memiliki beberapa item wajib berikut ini.
Tailored Suit
Anda harus memiliki setidaknya beberapa stel pakaian kerja dengan jahitan sempurna yang mampu menonjolkan karakter profesional. Untuk jenis busana ini, pilih yang bermaterial bagus dengan gaya klasik. Sebaiknya pilih yang berwarna netral sekaligus klasik sehingga dapat terus digunakan, seperti halnya warna hitam, cokelat, ataupun putih.
Little Black Dress
Anda pasti sudah sering mendengar jenis busana ini. Terusan sederhana bergaya minimalis tanpa aksen berlebihan akan menjadi investasi yang tepat. Little black dress juga mudah dipadukan dengan busana lain, seperti trench coat, bolero, cardigan, atau bahkan blazer untuk suasana yang lebih formal.
Leather Jacket
Percaya atau tidak, Anda harus memiliki setidaknya satu jaket kulit dalam lemari Anda. Item ini bisa membantu Anda tampil chic, apalagi saat dipadu dengan celana pipa dan sepatu bot.
Trench Coat
Seperti yang sudah Anda ketahui, jenis mantel ini sangat ampuh saat digunakan melewati musim hujan ataupun hawa dingin. Gunakan sebagai luaran pakaian kerja Anda untuk mendapatkan tampilan yang berbeda atau kenakan bersama gaun untuk melindungi tubuh Anda dari angin malam. Seperti juga tailored suit, pilihlah warna abadi agar tidak mudah tergerus mode.
Kemeja
Ya, item ini memang wajib dimiliki. Apalagi bila Anda seorang wanita karier yang harus selalu bertemu klien dalam penampilan sempurna. Pastikan kemeja Anda memiliki jahitan yang sempurna dan jatuh dengan pas di tubuh. Namun, untuk kemeja ada baiknya bila Anda memilikinya dalam beberapa nuansa yang berbeda.
Celana Pipa dan Rok Tulip
Kedua jenis item ini akan sangat berguna bagi Anda, para wanita profesional. Padukan bersama kemeja, tambahkan dasi untuk penampilan maskulin. Adapun bila ingin terlihat feminin dan chic, kenakan bersama bros ataupun ikat pinggang dari pita.
Pumps Hitam
Sepatu ini tidak akan pernah salah. Penampilannya yang klasik akan membuat penggunanya terlihat rapi, formal, dan profesional. Satu hal yang harus Anda perhatikan, jangan memilih hak yang terlalu pendek atau tinggi agar dapat digunakan dalam setiap kesempatan.
Tote Bag
Terakhir Anda harus memilih tas tangan yang elegan, yang dapat Anda gunakan untuk bekerja sekaligus datang ke tempat pesta. Lengkapi dengan dompet kulit mewah dan pilihlah model yang sederhana dengan ukuran medium, baik untuk tas maupun dompetnya.(Koran SI/Koran SI/tty)
Ditulis dalam Fashion | Tinggalkan sebuah Komentar »
Tip Padu Manis Pashmina
Posted by koranwopi pada April 24, 2009

Padahal, dilihat dari bentuknya, pashmina hanyalah selembar kain. Namun, bila kita mampu memadu-padankannya dengan tepat, pashmina akan menjadi pendongkrak penampilan nan manis. Caranya? Mudah saja. Ikuti tip di bawah ini:
1. Bila busana muslim Anda berwarna polos, tambahkan pashmina bermotif menarik sebagai luaran. Anda bisa langsung melilitkannya di sekitar bahu, atau menyelubungkannya ke atas jilbab untuk mendapatkan penampilan yang lebih anggun. Namun pastikan pashmina Anda berwarna senada, jangan terlalu kontras karena akan menjadikan penampilan terlihat timpang.
2. Pashmina dengan hiasan mote dan payet bisa memberikan tampilan yang glamor pada total look Anda. Namun hati-hati, jangan sembarangan menggunakannya. Padukan dengan gamis berpotongan simpel atau polos. Bila hendak memadukannya bersama kebaya, hindari yang memiliki bordir ramai. Pilihlah yang polos dan berwarna senada dengan padanan kebaya tersebut.
3. Sebaliknya, jika busana Anda sudah cukup semarak dengan motif maupun detail, maka pashmina polos atau yang hanya memiliki corak di bagian ujung bisa menjadi pilihan. Cara memakainya pun berbeda, kaitkan pada lengan untuk penampilan anggun yang kasual, hal ini juga akan membuat motif busana semakin menonjol.
4. Sebaiknya pilih pashmina yang berbahan rajut karena bersifat lentur dan lembut saat digunakan. Hindari pashmina organdi atau bahan kaku lainnya yang justru akan merusak penampilan.
5. Untuk mereka yang bertubuh pendek, hindari pashmina berukuran besar karena malah akan memberi kesan tubuh semakin terlihat pendek. Sebaiknya sesuaikan tubuh dengan lebar pashmina. Begitu juga dengan motifnya. Pashmina yang bercorak ramai akan memberi kesan penuh dan berat, maka sebaiknya dihindari mereka yang bertubuh plus.
(Koran SI/Koran SI/tty)
Ditulis dalam Fashion | Tinggalkan sebuah Komentar »
JFFF 2009 Usung Loca Fore
Posted by koranwopi pada April 24, 2009

Foto : Okezone
Semangat itulah yang kemudian dirangkum dalam acara bertema “Loca Fore”.
“Loca Fore adalah suatu gaya hidup baru yang ramah lingkungan dan budaya memanfaatkan produk-produk lokal,” tutur Wakil Ketua Panitia JFFF 2009, Musa Widyatmodjo saat berbincang dengan okezone.
Mantan Ketua Umum Pusat Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini mengatakan, JFFF 2009 sudah saatnya berkembang ke arah trading. Artinya, para pelaku industri di Indonesia diberikan kesempatan untuk memasarkan produknya kepada masyarakat luas.
“Pemberdayaan sumber lokal merupakan paket utama dari visi misi JFFF, sekaligus upaya mendukung program pemerintah untuk mencintai produk Indonesia,” jelasnya.
Kendati memberikan kesempatan kepada pelaku industri memasarkan produk dan jasanya, namun pihak penyelenggara, PT Summarecon Tbk, tampaknya belum berencana mengundang buyers luar negeri hadir di acara akbar tersebut.
“Tahun ini kami berkosentrasi membidik masyarakat lokal sebagai market potensial. Namun, tak menutup kemungkinan JFFF berkembang menjadi ajang internasional seperti Hong Kong Fashion Week,” pungkas Musa menyebut JFFF 2009 digelar mulai 13 sampai 23 Mei 2009.
(tty)
Ditulis dalam Fashion | Tinggalkan sebuah Komentar »
Kapan Anda Terlihat Paling Seksi?
Posted by koranwopi pada April 24, 2009
Jika Anda mengamati teman-teman pria saat sedang berkelakar sambil menonton televisi, Anda mungkin akan heran mendengar komentar-komentar mereka tentang perempuan. “Gila, seksi banget nih cewek!” begitu kata mereka, padahal Anda (dan umumnya teman-teman perempuan) menganggap perempuan yang dimaksud biasa-biasa saja. Kulit pun cenderung gelap. Atau, “Yah, cantik sih, tapi nggak menarik!”, padahal Anda harus berkhayal dulu untuk membayangkan bagaimana bila Anda secantik perempuan tersebut. Komentar yang lebih menyebalkan adalah, “Wah, yang ini sih bukan buat dikawinin!” Alamaaak….
Namun pria memang cenderung melihat daya tarik fisik perempuan secara berbeda dengan kita. Pria adalah visual hunter. Mereka menggunakan mata untuk menemukan wanita yang disukai secara detail, dari wajah (termasuk tatapan matanya), tubuh, hingga kaki yang jenjang. Dan jangan mengatakan bahwa Anda tidak mengetahui hal ini. Itu sebabnya kan, kita memakai make up, rok mini, sepatu high heels, atau bahasa tubuh yang sedemikian rupa, agar terlihat saat pria melakukan “screening” di antara begitu banyaknya wanita? Hal ini yang membedakan pria dari kita: kita hanya dapat menilai menarik-tidaknya perempuan lain dari wajahnya.
Apa yang terlihat menarik pada satu wanita, juga bisa terlihat biasa saja bagi pria lain. Inilah yang terjadi ketika mereka mulai berbicara dengan hati. Tidak heran, saat Anda sibuk menyeka peluh sehabis jogging, suami segera menyambut Anda sambil mengatakan bahwa Anda tampak begitu seksi.
Untuk melihat apa yang disukai pria dari wanita -dari cara berpakaiannya, hingga kapan wanita terlihat paling seksi- majalah Redbook membuat survey yang melibatkan 100 pria. Dari survey tersebut terlihat:
56% pria menyukai wanita yang mengenakan tank top dan jeans,
79% pria menyukai wanita yang memakai gaun santai yang feminin,
64% pria menyukai tipe the girl next door, atau gaya perempuan kebanyakan,
67% pria menyukai wanita dalam keadaan polos seperti saat bangun tidur.
Dari angka persentase secara umum ini, Anda juga dapat melihat penilaian secara lebih terinci. Misalnya, 79% pria senang saat pasangannya mengenakan atasan dengan belahan yang rendah, karena sesuatu yang terlihat “sedikit” itu justru membuat mereka tergetar. Hal-hal lain yang terungkap dari hasil survey tersebut antara lain:
Kelembutan: 72% pria senang saat pasangannya yang mengenakan sweater berbahan lembut meringkuk dalam pelukannya. “Bahan yang terlihat lembut dan halus saat disentuh membuat wanita terlihat seksi,” begitu kata Judd, 30, dari Brooklyn, NY.
Gaya yang cool: 56% pria senang perempuan yang bergaya dress-down, seperti jeans dengan t-shirt atau tank top putih. Alasannya, kaus putih dan jeans akan selalu menjadi paduan yang pas dan tidak mungkin salah.
Gaun yang feminin: 79% pria senang perempuan yang berdandan feminin dengan terusan yang girly. “Saya senang gaun ringan yang melayang saat tertiup angin,” jelas Barry, 27, dari Rochester, NY.
Gaya natural: 64% pria senang dengan gaya wanita kebanyakan, yang alami tak tersentuh make up.
Gaya polos, sedikit messy: 67% pria senang saat mendapati pasangannya terbangun dari tidur. Anda akan terlihat acak-acakan, namun dalam cara yang menyenangkan.
Pakaian yang pas di badan: 60% pria tergila-gila pada pasangannya yang mengenakan atasan ketat, atau pencil skirt yang menonjolkan pinggul yang berisi.
Ini hanya beberapa contoh saja dari hasil survey tersebut. Bagaimana dengan Anda? Kapan Anda merasa begitu seksi?
Sumber : Kompas.com
Ditulis dalam Fashion | Tinggalkan sebuah Komentar »
Nicholas Saputra Icon Fashion Nation Third Encounter Senayan City
Posted by koranwopi pada April 24, 2009

Kapanlagi.com – Lantaran suka jalan-jalan di mall pemain film Nicholas Saputra ditunjuk menjadi icon Senayan City, khususnya Fashion Nation Third Encounter tahun ini. Selain itu Nicholas juga menjadikan mal sebagai salah satu tempat untuk bersosialisasi. Hal tersebut diakui saat ditemui usai penobatan di Senayan City, belum lama berselang.
“Ya, gue suka ke mall. Di Jakarta butuh tempat untuk sosialisasi. Paling kalau ke mall gue cari makan di restoran atau tujuan lain seperti mencari baju dan macam-macam atau tempat meeting kerjaan. Biasanya gue makan makanan Indonesia kayak soto,” ucapnya.
[Info untuk Anda: "Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel. Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com"]
Namun dirinya pula kerap dijadikan sebagai model produk pakaian maupun celana tetapi Nicholas kurang memperhatikan fashion yang tengah menjadi trend. “Gue nggak perhatiin fashion. Tapi biasanya pake baju tergantung lokasi yang gue datangin. Kadang gue cuma pake kaos, celana pendek dan sandal,” urainya (kpl/dis/erl)
Ditulis dalam Fashion, Selebritas | Tinggalkan sebuah Komentar »
Gaya dengan Jilbab
Posted by koranwopi pada April 24, 2009
TIDAKbisa dimungkiri,musik dan mode memiliki kedekatan tersendiri.Musik memengaruhi mode dan begitu pula sebaliknya.
Berbusana muslim tidaklah lengkap tanpa jilbab.Bahkan, aksesori ini menjadi bagian terpenting dalam menciptakan penampilan yang berbeda. Seperti busana, mengenakan jilbab pun punya trik tersendiri, seperti apa?
Melihat seorang muslimah yang mengenakan busananya dengan baik, tentulah memberikan perasaan yang teduh dan damai. Terlebih saat digunakan bersama padanan jilbab yang m e n a – w a n . S e k a – rang ini jilbab maupun kerudung bukan lagi sekadar penutup kepala, melainkan bagian dari m o d e b e r b u – s a n a muslim itu send i r i .
Karenanya, cara penggunaannya pun semakin beragam. Coba saja tengok gaya Inneke Koesherawati maupun Okky Asokawati saat mengenakan jilbab. Padanannya yang serasi dengan busana, menjadikan penampilan semakin cantik.Namun, tak perlu khawatir, Anda pun bisa jadi secantik mereka.
Caranya pun tidak sulit, cukup menggunakan teknik padu padan sederhana untuk menjadikan penampilan Anda semakin menawan. Jurus pertama, siapkanlah beberapa jilbab dalam warna natural, layaknya putih,hitam,coklat. Sebagai tambahan, sediakan juga jilbab dalam warna dan corak semarak, semisal merah, kuning maupun motif floral ceria.
Hal ini akan membantu Anda menyiasati keserasian jilbab dengan busana yang akan dikenakan. Bahan jilbab atau kerudung pun harus dipertimbangkan.Sekarang ini, banyak tersedia jilbab praktis dari bahan kaus, lycra, linen, maupun poliester, selain kain yang semakin memudahkan Anda berkreasi dengan jilbab. Jangan lupa siapkan juga aksesori lain yang dapat mempermanis penampilan, seperti bros, jepit, juga jarum pentul dan peniti untuk memperkuat letak jilbab.
Tahap selanjutnya membutuhkan imajinasi dan kreativitas Anda. Bila merasa tidak memiliki ide brilian, contek saja majalah mode yang banyak menawarkan bentuk jilbab kreasi nan cantik, dan mulailah berkarya. Sulit melakukannya? Tidak masalah, di bawah ini tersedia beberapa panduan gaya sederhana yang bisa Anda ikuti.
1. Gaya Kasual
Gaya ini tidak menuntut Anda berkreasi berlebihan.Bahkan,tekniknya tergolong sangat mudah karena ditujukan untuk penggunaan sehari-hari. Jika yang menjadi pilihan Anda adalah kerudung kain, maka Anda bisa membentuk layaknya gaya bohemian masyarakat gipsy. Sisanya, bisa dibuat serupa pita atau dibiarkan menggantung di sisi leher sehingga menyerupai scarf. Lainnya,Anda bisa menambahkan jepit di bagian belakang layaknya bentuk ikat ekor kuda.
2. Gaya Sportif
Teknik ini lebih mudah dilakukan bila menggunakan kerudung berbahan kaus.Anda hanya tinggal menarik dan mengumpulkannya di belakang tengkuk, lalu menjepitnya dengan bros ataupun peniti sehingga bagian leher tidak menggembung. Sebagai aksesori, tambahkan lilitan kain maupun bandana dengan motif seru untuk mempercantik penampilan. Alternatif lain, tambahkan kapucon di atas jilbab untuk memberikan sentuhan gaya jilbab terkini. Gaya ini terlihat simpel, bahkan cenderung funky, yang menghadirkan kesan dinamis secara praktis.
3. Gaya Feminin
Di sini Anda dituntut untuk sedikit berkreasi. Gunakan kerudung kaus polos sebagai dasar, hanya sisa jilbab dikumpulkan di sisi leher dan ditahan menggunakan peniti. Selanjutnya, ambil kerudung kain bermotif dan bentuk segitiga.Bentuk menjadi jilbab ala gipsy,namun pertemukan sisanya dengan jilbab kaus tadi. Satukan keduanya dan bentuk serupa korsase dengan cara melilitkannya. Sematkan jarum pentul sebagai penguat, untuk sentuhan terakhir tambahkan bros cantik ataupun jepit berhias permata.
4. Gaya Glamor
Pada gaya ini, unsur payet memegang peranan penting untuk menghadirkan kesan mewah. Namun ingat, sesuaikan juga dengan busana Anda. Jangan sampai terkesan berlebihan dengan taburan payet di seluruh bagian busana. Pilih jilbab dengan detail payet yang terpusat di satu bagian saja, seperti di sisi ataupun bagian depan. Anda juga bisa memadukannya dengan jilbab yang berhiaskan bordir.
Detail tersebut justru semakin menegaskan kesan feminin. Sebagai aksen, Anda dapat membuat bentuk bunga atau pita di sisi leher dengan bantuan bros. Pilihan lainnya, gabungkan kerudung dasar tadi dengan selendang panjang berumbai yang dililit dan ditumpukkan di atasnya. Bila ingin praktis, tambahkan saja sehelai pashmina dan kenakan secara simpel untuk memberi sentuhan yang berbeda. (lesthia kertopati)
Ditulis dalam Fashion | Tinggalkan sebuah Komentar »
Berita Baru
Posted by koranwopi pada Februari 15, 2009
belum ada berita
Ditulis dalam Bola Mania, Buaran, Doro, Ekonomi & Bisnis, Fashion, Infrastruktur, Internasional, Investasi & Korporasi, Iptek & Sains, Kajen, Kedungwuni, Keluarga, Kesehatan, Kesesi, Kolom Tokoh, Koperasi & UKM, Kuliner, Metro Pekalongan, Musik dan Film, Nasional, Opini, Otomotif, Otosport, Paninggaran, Pelayanan Umum, Pendidikan, Politik & Hukum, Ragam Olahraga, Rumah & Taman, Sastra & Budaya, Selebritas, Seputar Jawa Tengah, Seputar Pemilu, Techno Comunity, Wiradesa, Wisata, Wonopringgo | Tinggalkan sebuah Komentar »

