Kata batik berasal dari sebuah kata dalam bahasa Jawa yaitu ambatik yang artinya kurang lebih yaitu menuliskan atau menorehkan titik-titik. Dalam proses pembuatan kain batik, seorang pengrajin batik menorehkan motif-motif indah ke selembar kain mori dengan menggunakan canthing yang berisi lilin panas. Proses membatik ini dilakukan secara hati-hati dan sering kali seorang pengrajin batik harus menorehkan serangkaian titik-titik demi memperoleh sebuah motif batik yang rumit. Alat untuk membatik ialah canting. Sebuah alat yang berbentuk seperti pulpen dan terbuat dari bambu, berkepala tembaga serta bermulut sempit pada bagian ujungnya. Canting ini dipakai untuk menyendok lilin cair yang panas, yang dipakai sebagai bahan penutup atau pelindung terhadap zat warna pada saat pewarnaan. Pada proses awal pembuatan batik, seorang pembatik menorehkan lilin di kain putih dengan menggunakan canthing. Namun sebelum dilakukan penggambaran motif dengan menorehkan lilin panas, kain mori yang akan digunakan haruslah dicelup lebih dahulu ke dalam minyak tumbuh-tumbuhan serta larutan soda, guna memudahkan lilin melekat dan agar kain bisa lebih mudah menyerap zat warna. Setiap kali kain hendak diberi warna lain, bagian-bagian yang tidak boleh kena zat warna ditutup dengan lilin, sehingga makin banyak warna yang dipakai untuk menghias kain batik, makin lama juga pekerjaan menutup itu. Pada taraf yang terakhir, lapisan lilin yang menutupi kain mori dihilangkan dengan merebus kain dalam air mendidih setelah sebelumnya direndam dalam larutan soda abu (sodium silikat) untuk mengekalkan warna pada batik. Sebagai hasil akhir adalah selembar kain batik dengan motif-motif indah yang mempesona. Tehnik membatik sebenarnya sudah berumur ribuan tahun. Beberapa orang ahli bahkan menyebut bahwa tehnik membatik mungkin berasal dari kebudayaan kuno bangsa-bangsa di Afrika, Timur Tengah (bangsa Sumeria kuno) dan beberapa bangsa kuno di Asia yang terus menyebar hingga sampai ke Indonesia. Penyebaran tehnik dan budaya membatik ini bisa sampai ke Indonesia, rupanya berkat jasa para pedagang dari India yang sempat mengunjungi daerah-daerah di Indonesia pada beberapa abad silam. Pada awalnya kain batik hanya dikenal sebatas lingkungan keraton atau kerajaan di mana kain batik semula hanya dipakai oleh kalangan bangsawan dan raja-raja. Namun seiring dengan perkembangan, maka kain batik selanjutnya dikenal luas di kalangan rakyat dan terus berkembang hingga masa sekarang. Jumlah dan jenis motif kain batik yang mencapai ribuan jenis ini mempunyai ciri khas pada masing-masing daerah di Indonesia. Walaupun terdapat jenis batik cap, namun kain batik tulis yang dibuat dan dilukis dengan menggunakan canthing masih menduduki tingkat preferensi teratas dan masih begitu diminati oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Tingkat kesulitan dan kerumitan serta jenis kain yang digunakan turut mempengaruhi harga jual. Dewasa ini kain batik tidak saja berbahan kain mori, namun juga sudah banyak dijumpai kain batik yang berbahan kain poliester, rayon, hingga sutra. Bahkan kain batik yang terbuat dari bahan sutra harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Penyebaran Tehnik Membatik dan Seni Membatik Kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal secara luas sejak jaman kerajaan Majapahit dan tampaknya terus berkembang dan menular kepada kerajaan-kerajaan lain di nusantara. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-20 dan batik cap dikenal baru setelah selesainya perang dunia I atau sekitar tahun 1920-an. Bahan yang digunakan dalam pembuatan kain batik secara tradisional antara lain bahan-bahan pewarna yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri seperti kayu pohon mengkudu, pace, kunyit, tinggi, soga, nila, sementara bahan sodanya dibuat dari soda abu, dan garamnya dibuat dari tanah lumpur. Batik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Mojokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Pusat kerajinan batik di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Daerah kerajinan batik yang terdekat dengan Mojokerto adalah di Jombang. Pada sekitar akhir abad ke-19 di Mojokerto, sudah dipakai bahan-bahan utama kerajinan batik seperti, kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya. Bahan kimia impor untuk pewarna batik baru dikenal setelah masa perang dunia I yang umumnya dijual oleh para pedagang Cina di Mojokerto. Batik cap kemudian dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik buatan luar negeri. Cap atau stempel motif batik (pada jenis batik cap) dulu dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Pasar Porong dahulu dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedung cangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Saat terjadi krisis ekonomi dunia sebelum jaman Jepang dan saat penjajahan Jepang, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan Jepang. Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. Sentra kerajinan batik yang dikenal sejak lebih dari seabad lalu adalah di desa Majan dan Simo. Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahit namun perkembangan seni batik mulai menyebar pesat di daerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakarta. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta. Pembuatan batik Majan ini merupakan warisan seni sejak jaman perang Diponegoro. Warna babaran batik Majan dan Simo adalah unik karena warna babarannya merah menyala (terbuat dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Salah satu sentra batik sejak dahulu ada di daerah desa Sembung, dimana pada akhir abad ke-19 para pengusaha batik kebanyakan berasal dari Solo yang datang di Tulungagung. Hingga sekarang masih terdapat beberapa keluarga pengrajin batik dari Solo yang menetap di daerah Sembung. Terdapat pula daerah kerajinan batik di Trenggalek dan beberapa di Kediri, walau sebagian berskala kerajinan rumah tangga dan termasuk kerajinan batik tulis. Di wilayah Jawa Timur, riwayat seni batik di daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam. Di daerah Tegalsari, Ponorogo, ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo. Seni batik mulai menyebar ke Tegalsari seiring dengan diboyongnya putri kraton Solo ke Tegalsari oleh Kyai Hasan Basri. Di masa itu banyak keluarga kraton Solo belajar di pesantren tersebut. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. Daerah perbatikan di Ponorogo yang bisa kita lihat hingga sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu bahan kain batik masih memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih impor baru dikenal di Indonesia sekitar akhir abad ke-19. Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia pertama sampai pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal seluruh Indonesia. Batik Solo dan Yogyakarta pada sekitar abad 17,18 dan 19, semakin berkembang luas, khususnya di wilayah Pulau Jawa. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan batik pada masa dahulu, masih memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa. Polanya tetap antara lain terkenal dengan “Sidomukti” dan “Sidoluruh”. Asal-usul batik di daerah Yogyakarta dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-I dengan rajanya Panembahan Senopati. Daerah sentra batik pertama ialah di desa Plered. Kerajinan batik pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton yang dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu ratu dan kemudian meluas diikuti oleh istri dari abdi dalem dan tentara-tentara. Pada upacara resmi kerajaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Akibat dari peperangan pada jaman penjajahan Belanda, maka banyak keluarga-keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah baru seperti Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Keluarga-keluarga kraton yang mengungsi inilah yang mengembangkan pembatikan ke seluruh pelosok pulau Jawa yang ada sekarang dan terus berkembang menurut kreativitas dan kekhasan budaya lokal. Kain batik khas Solo dan Yogyakarta yang mulai merambah wilayah Jawa Timur selanjutnya menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulung Agung. Terus menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Di wilayah Jawa Barat, batik berkembang di Banyumas, Pekalongan, Tegal, Cirebon. Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah selesainya peperangan tahun 1830 yang kemudian mengembangkan batik celup di Sokaraja. Bahan mori yang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewarna dipakai pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah bersemu kuning. Tehnik membatik kemudian ditularkan pada rakyat Sokaraja dan pada sekitar akhir abad ke-19 para pembatik di wilayah ini sudah menjalin hubungan dagang dengan para pembatik dari daerah Solo dan Ponorogo. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerjakan oleh warga keturunan Cina yang juga berdagang batik. Selanjutnya seni batik mulai berkembang di daerah pesisir pantai, selain di daerah Pekalongan sendiri, yaitu tumbuh pesat di Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Adanya pembatikan di daerah-daerah ini hampir bersamaan dengan pembatikan daerah-daerah lainnya yaitu sekitar abad ke-19. Perkembangan seni dan tehnik membatik keluar dari wilayah Yogyakarta dan Solo selanjutnya semakin meluas. Sampai awal abad ke-20 kegiatan seni batik yang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinya buatan dalam negeri dan juga sebagian impor. Batik cap baru dikenal setelah masa perang dunia I dan mulai banyak dipakai obat dan bahan kimia untuk batik buatan Jerman dan Inggris. Pada sekitar awal abad ke-20, di Pekajangan terdapat usaha tenun yang menghasilkan stagen dan benangnya dipintal sendiri secara sederhana. Tak lama kemudian seni batik pun mulai dikerjakan oleh para pekerja yang semula bekerja di sektor kerajinan tenun ini. Banyak tenaga kerja pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto beralih pekerjaan ke perusahaan-perusahaan batik, karena upahnya lebih tinggi dari pabrik gula. Seni batik mulai dikenal di Tegal pada akhir abad ke-19. Pewarna yang dipakai waktu itu buatan sendiri yang diambil dari tumbuh-tumbuhan pace/mengkudu, nila, soga kayu dan kainnya adalah hasil tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu-abu setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian berkembang menjadi warna merah-biru. Batik asal Tegal saat itu sudah mulai merambah Jawa Barat dan para pedagang inilah yang konon mengembangkan kerajinan batik di Tasik dan Ciamis. Pada awal abad ke-20 sudah dikenal mori impor dan bahan kimia impor untuk pembuatan batik. Pengusaha-pengusaha batik di Tegal masa itu lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari pedagang keturunan Cina di Pekalongan dengan cara kredit dan batiknya dijual pada yang memberikan kredit bahan baku tersebut. Perkembangan kerajinan batik di Kebumen lebih cepat daripada di Purworejo. Produksinya sama pula dengan Yogya dan daerah Banyumas lainnya. Sedangkan di daerah Bayat, Kecamatan Tembayat Kebumen, yang letaknya lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Seni batik di desa Bayat sudah ada sejak jaman dahulu. Pengusaha-pengusaha batik di Bayat tadinya kebanyakan dari kerajinan dan buruh batik di Solo. Seni batik di Kebumen dikenal sekitar abad ke-19 dengan dibawa oleh pedagang Islam dari Yogya yang mengembangkan batik di Kebumen. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan tengabang atau blambangan dan selanjutnya proses terakhir dikerjakan di Banyumas/Solo. Sekitar awal abad ke-20 untuk membuat polanya digunakan kunyit yang capnya terbuat dari kayu. Motif-motif Kebumen ialah pohon-pohon, burung-burungan. Bahan pewarna yang digunakan berasal dari pohon mengkudu dan nila tom. Pemakaian bahan kimia impor untuk pembuatan batik di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 yang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakyat Indonesia. Pemakaian cap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 yang dibawa oleh Purnomo dari Yogyakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah desa: Watugarut, Tanurekso yang banyak dan ada beberapa desa lainnya. Seni batik di daerah Tasikmalaya diduga dikenal sejak jaman kerajaan “Tarumanagara” dimana peninggalan yang ada sekarang ialah banyaknya pohon tarum di sana yang berguna untuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan yang sekarang masih ada pembatikan ialah Wurug terkenal dengan batik kerajinannya, Sukapura, Mangunraja, Maronjaya dan Tasikmalaya kota. Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian yang terkenal ialah desa Sukapura, Indihiang yang terletak di pinggir kota Tasikmalaya sekarang. Produksi batik Tasikmalaya sekarang adalah campuran dari batik-batik asal Pekalongan, Tegal, Banyumas, Kudus yang beraneka pola dan warna. Pembatikan dikenal di Ciamis sekitar abad ke-19 setelah selesainya peperangan Diponegoro, dimana pengikut-pengikut Diponegoro banyak yang meninggalkan Yogyakarta, menuju ke selatan. Sebagian ada yang menetap didaerah Banyumas dan sebagian ada yang meneruskan perjalanan ke selatan dan menetap di Ciamis dan Tasikmalaya sekarang. Motif batik Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh motif dan warna dari Garut. Sampai awal-awal abad ke-20 pembatikan di Ciamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri menjadi produksi pasaran. Sedang di daerah Cirebon batik ada kaitannya dengan kerajaan yang ada di daerah ini, yaitu Kanoman, Kasepuhan dan Keprabonan. Ciri khas batik Cirebon sebagaian besar bermotifkan gambar lambang hutan dan margasatwa. Motif laut yang kemudian muncul banyak dipengaruhi oleh budaya Cina, dimana kesultanan Cirebon dahulu pernah menyunting putri Cina. Batik Cirebonan yang bergambar garuda banyak dipengaruhi oleh motif batik Yogya dan Solo. Di Jakarta, seni batik dikenal dan berkembang bersamaan dengan daerah-daerah sentra batik lainnya yaitu kira-kira akhir abad ke-19. Seni batik dibawa oleh pendatang-pendatang dari Jawa Tengah dan mereka bertempat tinggal di daerah sentra batik. Daerah sentra batik di Jakarta tersebar dekat Tanah Abang yaitu: Karet, Bendungan Hilir dan Udik, Kebayoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet. Jakarta sejak jaman sebelum perang dunia kesatu telah menjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhan Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, produksi batik meningkat dan pedagang-pedagang batik mencari daerah pemasaran baru. Pedagang-pedagang batik yang banyak ialah bangsa warga keturunan Cina dan Arab, selain sejumlah kecil penduduk lokal. Batik Jakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnya, dengan warnanya yang sama dengan batik Banyumas. Batik kemudian berkembang ke seluruh penjuru kota-kota besar di Indonesia yang ada di luar Jawa, seperti daerah Sumatera Barat misalnya, khususnya daerah Padang. Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sejak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik-batik produksi Pekalongan dan Solo serta Yogya. Di Sumatera Barat yang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan yang terkenal “tenun Silungkang” dan “tenun plekat”. Batik cap mulai berkembang di jaman penjajahan Belanda saat jumlah permintaan akan batik tulis semakin meningkat dan cenderung kewalahan untuk dipenuhi. Bahan pewarna batik umumnya dari tumbuh-tumbuhan seperti mengkudu, kunyit, gambir, damar dan sebagainya. Bahan kain putihnya diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan. Perusahaan batik pertama muncul yaitu daerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Payakumbuh sekitar 1948, yaitu Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab. Warna batik tulis dari Padang kebanyakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanya Banyumasan, Indramayu-an, Solo dan Yogya. Sekarang batik produksi Padang sudah berkembang lebih maju walau masih belum bersaing sebaik kain batik buatan Jawa. Batik cap yang ada kebanyakan berupa sarung. Seni batik dari waktu ke waktu terus menyebar ke berbagai pelosok daerah di Indonesia seperti Bali, dan banyak daerah lain dengan warna-warna beragam mulai dari warna hijau, kuning, merah, biru, putih dan coklat. Melestarikan Seni Budaya Batik di Indonesia Kain batik merupakan kekayaan budaya Indonesia yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Sebenarnya sangat disayangkan bahwa saat ini batik tradisional khas Indonesia masih sulit untuk dipatenkan, padahal jumlah dan jenis kain batik dari tiap daerah di Indonesia kalau dihitung bisa mencapai ribuan jenis. Ragam dan corak motif yang khas dari tiap daerah merupakan sebuah kekayaan budaya yang patut senantiasa dilestarikan. Sebagai contoh, batik pesisir umumnya memiliki corak maskulin seperti pada corak “Mega Mendung”, karena di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki. Ragam corak dan warna batik sedikit banyak juga dipengaruhi pula oleh berbagai pengaruh asing. Misalnya saja pada daerah-daerah pesisir pantai, corak kain batik menyerap berbagai pengaruh budaya luar yang dibawa para pedagang asing. Warna-warna cerah seperti merah yang mulanya dipopulerkan oleh orang Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak burung phoenix, akhirnya juga diadaptasi ke dalam motif dan corak batik pesisir, misalnya saja batik Madura, yang sering kali diwarnai dengan warna merah, hitam, hijau, dan putih serta dihiasi oleh berbagai motif bunga-bungaan dan motif gambar burung. Batik khas Madura umumnya banyak digunakan sebagai sarung, walaupun ada beberapa yang khusus didesain untuk kemeja resmi pesta. Pusat-pusat kerajinan batik dan perdagangan batik di Madura adalah di Pamekasan dan Bangkalan. Pedagang batik di Madura umumnya adalah warga keturunan Arab selain warga lokal yang memegang teguh budaya Madura dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa penjajah Eropa yang juga mengambil minat kepada batik, memberikan pengaruh besar dalam motif dan corak batik khas Indonesia, seperti motif bunga-bungaan (bunga tulip) dan aneka motif benda lain, termasuk pula warna-warna asing seperti warna biru yang mulai banyak dijumpai dalam batik-batik Indonesia. Berbagai corak batik kuno khas era penjajahan Belanda maupun batik modern buatan Indonesia bisa disaksikan di Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda. Tampaknya kekayaan intelektual bangsa Indonesia berupa motif-motif batik tradisional, yang ribuan macam dan jenisnya ini, hari demi hari semakin banyak dijiplak dan ditiru oleh para pengrajin dari negara-negara lain demi kepentingan ekonomi. Bila pemerintah dan para pengrajin batik mau berusaha bersama-sama untuk berusaha lebih keras mendaftar setiap jenis motif dan kekhasan batik tradisional untuk dipatenkan secara internasional, maka hal ini jelas akan merupakan sebuah peluang yang baik bagi berkembangnya bisnis batik berpangsa pasar internasional. Museum batik yang ada di Belanda, yaitu Tropenmuseum yang mengkoleksi ribuan jenis kain batik, selalu saja dipadati oleh pengunjung, dan ini juga berarti sarana promosi yang efektif dalam mempopulerkan tradisi busana batik khas Indonesia di tingkat internasional. Pameran batik di luar negeri, terutama di negeri Belanda senantiasa banyak diminati pengunjung. Bahkan publikasi pameran batik di Belanda sering dimuat di majalah-majalah seperti majalah Round About dan majalah Moesson, yang tidak hanya terbit di Belanda, namun juga terbit di seluruh Eropa, Amerika, dan Australia. Batik khas Indonesia bahkan pernah diliput oleh majalah Island, Amerika. Acara peragaan busana batik Indonesia juga pernah ditayangkan oleh Fashion TV, sebuah televisi Perancis yang mengkhususkan diri pada penayangan peragaan busana dari berbagai negara. Sungguh sayang bila berbagai kesempatan yang ada kita lewatkan begitu saja. Mari kita giatkan industri batik di tanah air!
Arsip untuk ‘Seputar Gaya Hidup’ Kategori
Seni Batik, Sebuah Warisan Kekayaan Budaya Bangsa
Posted by koranwopi pada Juli 25, 2009
Ditulis dalam Fashion, Sastra & Budaya, Seputar Pekalongan | 1 Komentar »
Proses Pembebasan Manohara Odelia Pinot
Posted by koranwopi pada Mei 31, 2009

Setelah lama diberitakan tentang penyiksaan terhadap dirinya, akhirnya model cantik Manohara Odelia Pinot bebas dari Kerajaan Kelantan dan bisa pulang kembali ke Indonesia yaitu tepatnya di Jakarta.
Dengan Menggunakan pesawat Garuda Airlines dengan nomor penerbangan DA 738 dari Singapura, pesawat yang membawa Manohara dan bersama Ibunya yaitu Deasy Fajarina dan beserta kerabat keluarganya langsung mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta pada pukul 07.48 WIB, Minggu.
Tak lama berselang, Manohara Keluar dari bandara sekitar pukul 08.30, dan langsung disambut oleh sang kakak, Dewi dan sang mama Deasy, beserta perwakilan dari Departemen Luar Negeri.
Manohara terus menebarkan senyum pada para wartawan yang meliput pada hari minggu ketika turun dari pesawat dan di sambut oleh keluarga dengan tangis bahagia..manohara telah kembali kepangkuan ibu pertiwi.
“I’m Very happy, bisa pulang ke Indonesia, thanks everyone, terima kasih untuk semuanya, you are the best,” ungkap Manohara dengan wajah berseri-seri sambil seiring meneteskan air mata haru yang tak bisa ia bendung, karena penantian selama berbulan-bulan untuk bertemu kembali keluarganya di Indonesia yang baru hari ini tercapai berkat kerjasama KBRI dan Deplu Indonesia.
Proses pembebasan Manohara sendiri, terjadi karena dilakukan oleh ibu Mano dari lantai 3 Hotel Royal Palace Singapura pada pukul 02.00 waktu setempat. Dan karena diindikasi terjadi kekerasan, Kepolisian Singapura langsung memberikan perlindungan terhadap Manohara, memang Mano sendiri sempat katanya berteriak minta tolong kepada orang-orang yang ada di sekitarnya yaitu di dalam Mall Lantai 3 Royal Palace tersebut . “Seandainya Tengku Fakhry tidak mau melepaskan Manohara, maka dia akan ditahan oleh Polisi Singapura” ujar Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Departemen Luar Negeri RI, Teguh Wardoyo.
Dan aku dengar2 sih.. katanya yah.. pembebasan ini melibatkan banyak pihak dari Kepolisian Singapura Kedubes RI di Singapura, Kedubes Malaysia, dan 2 Anggota FBI. wahhh.. wahh…!! kayak di film2 aja nih
Ditulis dalam Nasional, Politik & Hukum, Selebritas | 2 Komentar »
The Gain Band Pendatang Baru
Posted by koranwopi pada April 25, 2009

The Gain kini setelah lolos dalam album kompilasi yang di adakan oleh Garda Musica akhirnya membuat lagu The Gain yang berjuul Sia-sia kini dapat di request di radio sebagai grub band pendatang, kini lagunya yang mulai banyak di minati warga pekalongan khususnya pendengar setia radio Kfm, dan pendengar setia radio Mfm Batang, bagi kalian yang merasa salah satu penggemar band pendatang baru ini, ayo mulai sekarang reques lagu mereka….
The Gain merupakan band pendatang baru yang keberadaannya sekarang sudah banyak di lirik oleh musisi pekalongan pada umumnya…
The Gain sebuah grub band yang berasal dari kota megono Pekalongan,The Gain beraliran pop rock membawakan lagu-lagu indie dengan aransement yang padat dan enak di nikmati, dengan 6 personil(pada awal), ingin mencoba meraih keperuntungannya di kancah dunia musik pada umumnya. The Gain yang di manageri oleh Izza Zulfana Faqih, S.Ag. berkediaman di Kertijayang Gang 2 no.38 Buaran Pekalongan 51171 yang sekaligus di jadikan sebagai basecamp The Gain. bagi kalian yang ingin kenal lebih jauh dengan mereka kalian bisa hubungi di contact person : (0285) 432582 / 08156917560 / 085740463111. atau di thegainband@gmail.com
Ditulis dalam Buaran, Musik dan Film, Selebritas | Tinggalkan sebuah Komentar »
Pasar Kaget Wisata Digelar 24 April 2009
Posted by koranwopi pada April 25, 2009
BANDUNG, KOMPAS.com — Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia atau Asita Daerah Jawa Barat akan menyelenggarakan Pasar Kaget Wisata 2009. Acara di Gedung Landmark, Jalan Braga, Kota Bandung, itu digelar pada 24-26 April 2009.
Ketua Panitia Pasar Kaget Wisata 2009 Hilwan Saleh di Bandung, Selasa (21/4), mengatakan, acara itu ditargetkan dapat menarik sekitar 30.000 pengunjung selama tiga hari. Adapun nilai transaksi yang diharapkan sekitar Rp 2,5 miliar.
Jumlah pengunjung dan nilai transaksi itu meningkat dibandingkan Pasar Kaget Wisata tahun 2008 masing-masing sekitar 25.000 orang dan Rp 1,3 miliar. Pasar Kaget Wisata 2009 yang buka pukul 10.00-22.00, diikuti 14 biro perjalanan wisata dari Jabar.
Acara dengan 50 gerai itu juga diikuti pengusaha hotel dan resor, pengelola lokasi wisata, maskapai penerbangan, serta satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait. Tujuan wisata yang ditawarkan antara lain Ciater, Taman Wisata Mekarsari, dan Tangkubanparahu. Adapun lokasi tujuan wisata di Indonesia misalnya Denpasar, Yogyakarta, Medan, dan Makassar.
“Kalau ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, Perancis, Hongkong, dan Australia,” kata Hilwan.
Acara Pasar Kaget Wisata di antaranya bursa paket hemat, kesenian dalam dan luar negeri, permainan, serta pemberian hadiah suvenir, tiket maskapai, dan kupon hotel.
Wakil Ketua III Asita Jabar Bidang Tata Niaga Ticketing Tour dan Umroh Ameriawati Atmadibrata mengatakan, tujuan diselenggarakannya acara tersebut yaitu sebagai wahana promosi yang efektif bagi semua unsur industri pariwisata. Tujuan lain yaitu sebagai sarana menyosialisasikan rencana liburan agar terprogram dengan baik.
“Acara dinamakan Pasar Kaget karena kami ingin pengunjungnya benar-benar ramai. Diharapkan mereka juga terkejut dengan kemeriahan acaranya,” katanya.
Pada pameran itu, Asita Jabar berharap masyarakat lebih mengenal keberadaan dan fungsi biro perjalanan sebagai penyedia jasa yang dapat membantu merancang perjalanan sesuai kebutuhan. Ameriawati mengatakan, pemerintah pun terus mendorong bisnis pariwisata.
“Kebijakan pemerintah menghapus fiskal mendukung usaha pariwisata misalnya, membuat minat berwisata ke luar negeri menjadi tinggi,” kata Ameriawati.
Sekretaris Jenderal Asita Jabar Nico Lumanaw mengatakan, sebenarnya Pasar Kaget Wisata ingin digelar dengan skala lebih besar. Namun, Bandung belum memiliki gedung pertemuan yang representatif. Bila tersedia gedung yang memadai, ia yakin acara akan lebih ramai.
“Sebab, Bandung punya daya tarik lebih besar. Bahkan, bisa lebih ramai dari acara serupa di negeri jiran yaitu Malaysian Tour and Travel Association,” katanya.
Ditulis dalam Wisata | Tinggalkan sebuah Komentar »
Mengecat Dinding Tak Harus Pakai Tukang
Posted by koranwopi pada April 25, 2009
Sebetulnya ada banyak cara untuk menghemat pengeluaran/biaya ketika kita ingin melakukan perbaikan terhadap rumah kita. Salah satunya, mengurangi biaya/ongkos tukang.
Tentu tak semua pekerjaan renovasi rumah bisa kita lakukan sendiri. Beberapa pekerjaan berat seperti membangun fondasi sampai mendirikan bangunan rumah seutuhnya, sebaiknya tetap dikerjakan oleh tukang yang profesional demi hasil terbaik. Hal-hal kecil seperti: mengecat ulang elemen ruangan merupakan salah satu bentuk pekerjaan renovasi rumah yang bisa kita lakukan sendiri.
Proses pekerjaan renovasi mengecat ulang elemen ruangan itu sebetulnya tak terlalu sulit. Pada beberapa kasus, proses ini malah menyenangkan, terlebih bagi pemilik rumah yang senang berkreasi mempercantik rumahnya secara mandiri.
Mengecat elemen ruangan (dalam hal ini plafon, dinding, kusen, berikut elemen detail lainnya) dapat dilakukan secara sederhana. Dengan sedikit proses seperti halnya yang dilakukan oleh para tukang profesional, ruangan pun bisa tampil cantik.
Sebelum mulai mengecat ulang ruangan, pastikan terlebih dahulu arah perubahan warna ruang yang diharapkan. Langkah ini dibutuhkan agar nantinya hasil pengecatan ulang dapat membuat warna ruang menjadi lebih menarik. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses ini adalah: warna furnitur, warna dan motif lantai, serta aksesori percantikan ruangan.
Jika saja warna furnitur, lantai, dan aksesori sudah cukup beragam, maka sebaiknya pertimbangkan untuk memilih warna cat dinding yang netral. Misalnya memilih warna putih, krem, kuning muda, atau abu-abu muda. Warna kontras dapat saja dipilih dan diaplikasikan pada dinding dengan pertimbangan yang lebih seksama. Misalnya pertimbangan menyangkut posisi dinding dan elemen yang ada di hadapannya.
Setelah warna terpilih dan terbeli, maka mulailah melakukan pengecatan. Singkirkan furnitur jauh dari dinding yang akan dicat. Mungkin bisa saja seluruh furnitur dikumpulkan pada tengah ruangan dan ditutup dengan kain atau plastik sehingga tak terkena tumpahan atau cipratan cat. Aplikasikan cat menggunakan kuas dan rol mulai dinding bagian atas hingga rata. Gunakan rol untuk mengecat bagian yang luas, dan kuas untuk merapikan bagian-bagian tepian atau detail lainnya. Pengecatan dapat dilakukan dua hingga tiga lapis, hingga warna dinding terlihat rata. Tak perlu buru-buru, jika lelah beristirahatlah dan lanjutkan pekerjaan setelah badan fit kembali.
Penulis: Tatang
Ditulis dalam Rumah & Taman | Tinggalkan sebuah Komentar »
Membuat Blackberry Lebih Optimal
Posted by koranwopi pada April 25, 2009

Pengguna Blackberry Indonesia yang mencapai sekira 215 ribu pengguna dirasakan masih minim pengetahuan mengenai handset keluaran Research in Motion itu. Bahkan, operator telekomunikasi juga dinilai kurang memberikan informasi seputar Blackberry. Akibatnya, handset tersebut hanya dijadikan sebagai ajang ‘gaya-gayaan’ karena hanya digunakan untuk sms-an atau telepon.
Menurut moderator mailing list Blackberry Community Indonesia, Faizal Adiputra pengguna Blackberry bisa mengoptimalkan pemakaian sejak pertama kali menggunakannya. Pengguna harus memiliki pengetahuan untuk mengoptimalkan fitur dan layanan yang tersedia di blackberry.
Faizal mencoba memberikan tips dan Trick bagaimana menggunakan BB yang optimal mulai dari register hingga mengatasi problem yang dialami pemegang Blackberry, seperti sinyal lemah, dan aplikasi yang cocok, melakukan up date.
Secara umum pengguna awam BB dapat menghubungi operator layanan yang dimilikinya, baik melalui call center, customer service, email, atau datang langsung ke galery center operator. Selain itu, pengguna juga bisa langsung menuju ke distributor atau partner Blackberry. Cara lain adalah melalui berbagai komunitas yang dikembangkan, seperti Blackberry Community yang beralamat di id-blackberry@yahoogroups.com
Sedangkan untuk optimalisasi handset seperti membuat baterei BB lebih awet, Faizal memberikan tipsnya seperti, menurunkan screen brightness. Default BB menunjukkan angka screen brightness 100, ada baiknya pengguna menurunkan brightness sekira 10 menjadi 90. kedua, matikan led indicator dan minimalkan profil suara, mungkin pengguna bisa menggunakan suara hanya untuk menerima sms atau panggilan telepon.
Selain itu, untuk urusan memori, pengguna bisa melakukan cara me-restart BB miliknya satu kali sehari atau mencabut batereinya tiap pagi. Banyaknya bahasa yang digunakan di tawarkan BB selama ini cukup memakan banyak memori, untuk itu ada baiknya pengguna melakukan uninstall bahasa yang terdapat di ponsel pintar itu.
Permasalahan lain yang sering dihadapi banyak pengguna BB adalah membengkaknya biaya tagihan saat menggunakan BB di luar Indonesia. Sebab itu, sebelum bepergian ke luar negeri, pemilik sebaiknya pemilik menghentikan kiriman email dari mailist untuk sementara, gunakan e-mail untuk keperluan kerja atau personal. Pengguna juga diharapkan cermat dalam menggunakan pulsa, atau mungkin menggunakan cukup menggunakan Wi-Fi yang tersedia di luar negeri. Satu hal yang perlu diingat pengguna blackberry adalah kurangi pengiriman gambar atau file-file berat secara berlebihan, jika terpaksa gunakan fasilitas Wi-Fi.
Selain itu, Faisal mengingatkan agar pengguna Blackberry dapat cermat menggunakan handset BBnya terutama jangan menggunakan BB saat sedang mengendarai kendaraan. (srn) sumber: Okezone.
Ditulis dalam Techno Comunity | Tinggalkan sebuah Komentar »
Launching Community Techno Center
Posted by koranwopi pada April 25, 2009

Sidareja : 16 Februari 2009 Launching Program CTC yang sukses digelar dengan dihadiri oleh pejabat dinas tenaga kerja yang mewakili bupati, DPRD Cilacap, camat, sekcam Sidareja, kepala desa, dan warga setempat. Acara ini dibuat sederhana dan berjalan lancar dengan ending talk show disertai testimoni video confrence dengan mbak mimi, yu fitri, projek officer tifa dan Microsoft Indonesia. Program IT Center(CTC Mahnetik) ini mestinya sudah mulai berjalan pada bulan januari, tetapi karena pengiriman komputer baru nyampe tanggal 31 januari, maka acara launchingpun di undur menjadi tanggal 16 febuari kemarin.
Testimoni ini bertujuan mengenalkan kegunaan internet sebagai fungsi komunikasi. Karena bagi sebagian orang, internet merupakan sesuatu yang awam dan elit. Bapak kades Sidamulya, Bapak Khusnun bahkan sangat terkesan dengan video confrence ini. Dan beliaupun meminta untuk diajarin tentang komputer dan video confrence tersebut.
Untuk seminggu pertama dari acara launching ini semua yang main komputer gratis untuk satu jam. dan jam selanjutnya kena bayar RP 2000 dan wajib jadi member.
Ditulis dalam Techno Comunity | Tinggalkan sebuah Komentar »
Pameran Mobil di China Diserbu Pabrikan dari Mancanegara
Posted by koranwopi pada April 25, 2009
SHANGHAI, KOMPAS.com — China tampaknya menjadi pengecualian terhadap krisis ekonomi global bagi para pabrikan mobil di dunia. Bayangkan, lebih dari 20 pabrikan mobil yang berdatangan dari berbagai negara ikut ambil bagian dalam China Auto Show yang baru dibuka 19 April dan akan berakhir 26 April mendatang.
China sebagai tuan rumah diwakili paling sedikit 7 produsen mobilnya, seperti Changan Motor menampilkan E301 Crossover, diikuti Roewe memajang N1, sedangkan Jianghuai Automobile (JAC) menyodorkan city car, dan bersama Pinifarina, mereka juga menyertakan saloon hatchback dan model dua pintu.
Adapun dari luar, tampak GM membawa New Buick Invict. Ford mengandalkan S-Max dengan 7 tempat duduk (seven seater). Wakil dari Jerman, Mercedes, menampilkan New GLK bermesin 6 silinder, kemudian ada Porsche yang masih mengandalkan Panamera yang mengusung mesin bertenaga 300 dan 500 hp.
Dari Jepang, Nissan membawa dua varian dari Teana. Yang satu sedan medium, satunya lagi kelas premium. Adapun Honda diwakili ATPM-nya di China melalui Guangzhou memajang New Li Nian.
Menurut pihak penyelenggara, pameran ini diikuti 1.000 lebih partisipan, terdiri dari pabrikan mobil dan unit pendukungnya, antara lain stan aksesori. Kemudian, tidak disangka pula, jumlah tersebut merupakan rekor peserta terbanyak.
Sumber: Kompas.com
Ditulis dalam Otomotif | Tinggalkan sebuah Komentar »

