Menurut Obama, pengesahan Kongres itu merupakan tonggak sejarah bagi AS untuk menuju pemulihan ekonomi global. Presiden berjanji segera menandatangani paket stimulus itu menjadi undang-undang.
”Ini tonggak sejarah utama bagi jalan kita menuju pemulihan. Saya ingin berterima kasih kepada anggota Kongres yang bangkit bersama dalam satu tujuan untuk mewujudkannya,” papar Obama pada pidato radio berkala mingguan.
Komentar Obama itu muncul setelah Kongres AS pada Jumat (13/2) menyetujui paket pemotongan pajak dan anggaran baru untuk pemulihan ekonomi AS yang sedang resesi. Dalam pemungutan suara di Senat, 60 suara mendukung paket stimulus dan 38 suara menolak, setelah pemungutan suara di DPR (House of Representative) dengan 246 suara mendukung dan 183 suara menolak.
Setelah lolos dari Kongres paket stimulus itu harus ditandatangani Obama untuk resmi menjadi undangundang sebelum batas waktu yang ditetapkannya sendiri,16 Februari. ”Saya akan menandatangani legislasi ini menjadi undang-undang secepatnya dan kita akan mulai melakukan investasi yang diperlukan untuk menjadikan rakyat kembali bekerja,”tutur Obama. Pada saat yang sama Obama memperingatkan, ”Berbagai masalah telah membawa kita menuju krisis yang semakin dalam dan luas.Respons kita juga harus seimbang dengan masalah itu.
”Meski Obama telah menekankan tujuan bipartisan, anggota parlemen dari Partai Republik tetap bulat menolak paket stimulus tersebut. Kalangan konservatif Republik, baik di Senat atau DPR, menyatakan paket stimulus itu menghamburkan anggaran negara.
Untuk terus mendorong diloloskannya paket stimulus itu oleh Kongres, Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs berkata,”Tak kurang dari 3,5 juta lapangan kerja menunggu untuk diselamatkan atau diciptakan.” Dalam dengar pendapat di DPR Obama menekankan bahwa dia menyambut semangat perdebatan yang ada di parlemen.
”Namun saya peringatkan, ini hanyalah awal dari apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi krisis ekonomi di sekeliling kita,”paparnya. Menurut Obama,paket stimulus itu meliputi berbagai rencana kebijakan seperti penyusunan ulang program bailout industri keuangan USD700 miliar, penundaan penyitaan rumah, reformasi regulasi sektor keuangan, dan menciptakan anggaran federal yang ”bertanggung jawab”.
Belum Berdampak
Pengamat ekonomi Muhammad Ikhsan Modjo menilai disetujuinya paket stimulus ekonomi senilai USD787 miliar oleh Kongres menjadi titik krusial perbaikan perekonomian Negeri Paman Sam. Namun, paket kedua yang disetujui oleh Kongres ini tidak bisa banyak diharapkan membantu situasi perekonomian dunia yang akan berpotensi menjurus depresi.
”Untuk perekonomian AS ya,tapi jangan lupa kebijakan perdagangan mereka mulai protektif,” kata Modjo yang juga Direktur Institut for Development of Economic and Finance (Indef) ketika dihubungi SINDO kemarin. Menurut Ikhsan, salah satu contoh paling kentara adalah kebijakan dalam negeri AS atas Persetujuan Perdagangan Bebas Amerika Utara (North American Free Trade Agreement/NAFTA).
Sebagaimana disebut berulang oleh Obama dalam masa kampanye, dia ingin menghentikan perjanjian itu. ”NAFTA bisa dijadikan contoh,”kata Modjo. Bahkan Obama mengancam menutup akses dagang dengan negara mitra yang berlaku tidak adil, dengan tidak menerima barangbarang dari AS.Kecenderungan proteksionisme kini tidak hanya diperlihatkan oleh AS, namun sejumlah negara Eropa.
”Ini berdampak pada prospek ekspor yang tidak juga membaik bagi negara lain seperti kita,”kata Modjo. Modjo menilai paket stimulus yang disetujui berdampak positif bagi negara lain, namun bersifat tidak langsung.Indikasi ini tampak pada penguatan mata uang dolar Amerika Serikat terhadap mata uang negara lain di seluruh dunia, termasuk atas rupiah.
”Ini menunjukkan sentimen positif,namun hanya terjadi di AS,”katanya. Perekonomian Indonesia, ramal Modjo, bergerak optimistis dan semakin baik dengan adanya paket tersebut. Artinya, paket itu semakin menambah kepercayaan pelaku usaha dan konsumen bahwa perekonomian nasional akan tumbuh lebih baik di antara negara-negara di Asia.
”Kita tidak tergantung pada AS,namun dari sejumlah fakta, meski melambat namun (kita) masih masuk kategori terbaik di Asia,”paparnya. Analisis senada dikemukakan Direktur Perencanaan Makro Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Prijambodo.
Menurut dia, butuh stimulus fiskal dalam skala global untuk bisa menahan resesi mendalam dunia, yang melibatkan tidak hanya AS, melainkan negara-negara di Eropa,China untuk di Asia.
”Karena resesi sudah menjalar ke AS dan Eropa, kini Asia sudah mengalami pelambatan,”ujarnya. Meski begitu, Bambang menilai paket stimulus fiskal akan lebih efektif dibandingkan moneter untuk saat ini. Namun, Indonesia tidak sepenuhnya harus mencontoh AS dengan menggelontorkan begitu banyak anggaran negara untuk menyubsidi pajak.
Hindari Proteksionisme
Sementara itu, menterimenteri keuangan negara anggota Group of Seven (G-7) menegaskan akan menghindari proteksionisme dalam upaya menstabilkan ekonomi dunia dan pasar keuangan.
”Stabilisasi ekonomi global dan pasar keuangan tetap menjadi prioritas utama kita. Sejauh ini kita telah secara kolektif melakukan berbagai langkah untuk mengatasi tantangan ini,” tulis deklarasi menteri-menteri keuangan G-7 dalam pertemuan terakhir di Roma. G-7 menyatakan akan menguatkan komitmen untuk bertindak bersama-sama dalam menggunakan berbagai kebijakan demi mendorong pertumbuhan, angka tenaga kerja, dan menguatkan sektor keuangan.
”G-7 tetap berkomitmen menghindari kebijakan proteksionis untuk mengurangi adanya penghalang yang baru pada perdagangan dunia,” catat putusan mereka. Keputusan G-7 yang terdiri atas Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat (AS) plus Rusia itu mencerminkan sejumlah komentar yang dilontarkan delegasi tentang proteksionisme.
Menurut mereka, proteksionisme menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi karena setiap negara membuat kebijakan yang hanya menguntungkan ekonomimerekasendiridaripada ekonomi bersama. G-7 memuji langkah stimulus yang diambil sejumlah negara, kecuali China, yang berkomitmen untuk tingkat tukar mata uang yang lebih fleksibel.
Mereka mendesak China agar menjadikan mata uang yuan lebih fleksibel. Secara umum, G-7 masih mengkhawatirkan rentannya pasar mata uang asing. Para pemimpin keuangan telah bekerja keras untuk menyepakati langkah menghadapi resesi yang kian buruk.
Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Dominique Strauss-Kahn juga memperingatkan bahwa ke depan resesi ekonomi dapat semakin buruk. Delegasi negara anggota G-7 itu memadukan berbagai catatan mereka tentang paket stimulus dan mencari konsensus untuk tahap selanjutnya, termasuk kemungkinan munculnya peraturan baru untuk keuangan global. (AFP/Rtr/syarifudin/ muhammad ma’ruf)