KORAN WONOPRINGGO

Inspirasi dan Referensi Terpercaya Di Pekalongan

Arsip untuk Agustus, 2009

Mengatasi Terorisme di Indonesia

Posted by koranwopi pada Agustus 1, 2009

Teror itu terjadi lagi!!! Bom meledak di JW Marriot dan The Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan Jakarta 17 Juli 2009. Sampai saat catatan ini ini kami rilis, laporan seputar pekembangan tragedi ini baik mengenai para korban dan utamanya mengenai upaya penyelidikan dan penyidikan, para pelaku, motivasi dan berbagai spekulasi yang berkembang di seputar kejadian ini beredar.

Dari berbagai hingar bingar itu, menjadi lebih positif bila kita berpijak kepada kerangka solusi mengatasi marak dan berkembangnya terorisme di Indonesia. Dari serangkaian informasi yang dirilis di berbagai media dalam berbagai reportase dan wawancaranya terdapat beberapa catatan yang patut menjadi perhatian :

  1. Terdapat kegagalan intelejen pemerintah Indonesia dalam mendeteksi potensi terjadinya tindakan pemboman di kedua hotel tesebut. Tentunya tanggung jawab teknis dan operasinya berada pada institusi intelejen seperti BIN, BAIS, bagian intelejen pada TNI dan Polri serta institusi intelejen lainnya di pemerintah. Momentum ini seharusnya menjadi kerangka acuan bagi perbaikan, revitalisasi lembaga-lembaga intelejen pemerintah untuk berbenah.  Lembaga intelejen merupakan Alert System bagi kondisi Sospolkam negara sudah seharusnya diberikan perhatian yang cukup signifikan.
  2. Radikalisasi pada sebagian masyarakat kita, terutama yang terstigma sebagai “islam radikal” atau “islam garis keras” sudah sampai pada tahapan yang sangat mengkhawatirkan. Sampai saat ini diyakini bahwa sumber teror berasal dari kelompok tersebut, paling tidak ini didasarkan pada sumber-sumber resmi yang berkembang, namun seyogyanya harus digali lebih dalam apakah mereka ini melakukannya secara sadar dan berdasarkan paham yang mereka yakini atau hanya sekedar alat dari sebuah skenario lain yang lebih besar. Menjadi penting upaya mereduksi berkembangnya radikalisasi faham-faham tertentu yang berkembang di masyarakat. Faham-faham radikal saat ini lebih diarahkah kepada kelompok-kelompok tertentu masyarakat muslim. Wajar, karena masyarakat muslim di Indonesia merupakan masyarakat mayoritas. Namun radikalisasi ini bukan hanya terdapat pada masyarakat muslim saja. Radikalisasi sebagian masyarakat muslim di Indonesia inipun dapat dikelola dan direduksi dengan baik bila pemerintah mampu mengembangkan tata kelola komunikasi sosial, mengembangkan saling pengertian dalam kerangka pluralitas dan kebhinekaan di negeri ini, apalagi masyarakat kita relatif sangat permisif dan moderat. Apreoritas bukanlah solusi, namun kerangka dialog saling pengertian dan mengembangkan kerangka non resiprokal dan tidak menarik jurang permusuhan menjadi penting. Persaudaraan muslim yang erat justru menghilangkan fanatisme dan radikalitas, demikian juga semangat nasionalisme yang sehat memiliki akar yang sama dan menjadi penyejuk kehidupan kita.
  3. Stabilitas Sosial Politik dan Keamanan Nasional yang patut dipertanyakan. Terorisme dan kekerasan adalah salah satu indikasi penurunan atau kegagalan pengelolaan stabilitas sosial politik dan keamanan pada sebuah pemerintahan.  Serangan teror dan tindak kekerasan yang bersifat masif tidak akan berkembang pada negara yang pemerintahnya mampu mengelola kondisi sosial polititik dan keamanan secara stabil.
  4. Indonesia terindikasi dapat menjadi pusat konflik dan kegiatan perang intelejen asing yang merupakan representasi dari paham-paham yang saling berbenturan secara internasional serta dapat meluas dan berpotensi menjadi perang terbuka bila tidak segera direduksi dan diberantas. Bagaimanapun juga Teror Bom Marriot II hanya merupakan salah satu rentetan di permukaan berbagai kejadian yang memiliki nuansa sama dengan berbagai tindakan yang pernah terjadi sebelumnya dengan indikasi-indikasi dan motivasi yang telah dapat diketahui.

Ditulis dalam Catatan Redaksi | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.